DUBLIN – Lonjakan kebutuhan listrik mendorong raksasa teknologi Microsoft meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya. Peningkatan kebutuhan listrik industri teknologi tersebut dipicu ekspansi pusat data untuk kecerdasan buatan (AI/artificial intelligence).

Pada tahun 2025 perusahaan pengembang Windows ini mencatat pencapaian target kontrak pasokan energi terbarukan baru sebesar 40 Gigawatt (GW).

Dari total kapasitas tersebut, sekitar 19 GW telah lebih dulu mengalir ke sistem kelistrikan. Sisanya dijadwalkan menyusul secara bertahap dalam lima tahun ke depan dan tersebar di 26 negara. Ekspansi ini memperlihatkan bagaimana kebutuhan listrik pusat data semakin menjadi faktor penentu arah investasi energi global.

“Kami ingin mempertahankan angka 100 persen itu seiring pertumbuhan yang terus berlangsung,” ungkap Kepala Operasi Cloud Microsoft Noelle Walsh, seperti dikutip dari Reuters, (18/2).

Komitmen mempertahankan penggunaan listrik bebas karbon juga akan semakin bergantung pada sumber energi non-emisi lain, termasuk nuklir. Chief Sustainability Officer Microsoft Melanie Nakagawa menilai listrik bebas karbon akan memainkan peran lebih besar dalam menjaga kesesuaian konsumsi energi dengan target energi bersih hingga 2030, saat perusahaan menargetkan berstatus karbon negatif.

Microsoft juga menyiapkan belanja investasi besar untuk menopang ekspansi kecerdasan buatan secara global. Perusahaan itu akan menggelontorkan US$50 miliar atau sekitar Rp842 triliun hingga 2030 guna memperluas infrastruktur AI ke negara-negara Global South. Sebagian besar dana tersebut akan diarahkan untuk pembangunan pusat data cloud dan kecerdasan buatan.

Ekspansi di Eropa juga mendapat dorongan setelah pemerintah Irlandia mencabut kebijakan yang sebelumnya membatasi koneksi pusat data ke jaringan listrik. Kebijakan baru itu membuka ruang bagi Microsoft untuk menjawab lonjakan permintaan yang selama ini tertahan di negara yang menjadi salah satu basis teknologi terbesar di kawasan tersebut.

Microsoft berencana melanjutkan proyek kampus pusat data di luar Dublin yang sempat tertunda begitu aturan baru mulai berlaku. Regulasi tersebut mewajibkan setiap pusat data baru memenuhi setidaknya 80 persen kebutuhan listrik tahunannya dari tambahan energi terbarukan.(RA)