JAKARTA – Pemerintah memiliki ambisi besar untuk menurunkan impor BBM yang selama ini menggerus keuangan negara. Salah satu caranya adalah dengan mencampur bensin dengan Bahan Bakar Nabati (BBN) dalam hal ini etanol.

Namun menjadi ironi ketika ambisi tersebut dikejar justru dengan membuka keran selebar-lebarnya impor etanol dalam perjanjian dengan Amerika Serikat yang diteken langsung oleh Prabowo Subianto dan Donald Trump.

Pemerintah beralasan kemampuan produksi etanol dalam negeri belum mampu untuk memenuhi kebutuhan pencampuran etanol dan BBM yang jadi program pemerintah. “Tujuannya sebenarnya adalah bagaimana menciptakan peluang usaha baru yang ada di Indonesia. Namun sampai dengan produksi kita bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, maka ruang untuk kita melakukan impor boleh saja, termasuk di impor dari Amerika,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jumat malam (20/2).

Menurut Bahlil penggunaan etanol adalah salah satu strategi untuk mendorong ketahanan energi dan kedaulatan energi. Adapun keran impor dibuka sampai kemampuan untuk memasok dalam negeri sudah mumpuni. “Sampai dengan kebutuhan produksi kita dalam negeri terpenuhi. Ini parallel saja sebenarnya, parallel saja biasa,” ungkap dia.

Berdasarkan data Kementerian ESDM yang disampaikan Bahlil sebelumnya, Indonesia memproduksi bensin sekitar 14,27 juta kiloliter (KL) pada 2025, sedangkan kebutuhan bensin Indonesia mencapai 37,3 juta KL. Kesenjangan tersebut menyebabkan Indonesia perlu mengimpor bensin sekitar 23,03 juta KL.

Kebutuhan bensin Indonesia akan terus meningkat hingga menyentuh 40 juta KL, sementara itu produksi Indonesia diproyeksikan masih berada di kisaran 14 juta KL.

Hingga kini baru Pertamina yang terlihat sedang menyiapkan industri etanol. Pada awal tahun ini PT Pertamina dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) berencana akan membangun pabrik bioetanol berkapasitas produksi 30 ribu kiloliter (KL) per tahun di kawasan Pabrik Gula Glenmore Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Pabrik bioetanol tersebut diproyeksikan menghasilkan 30 ribu kiloliter bioetanol per tahun dengan bahan baku berbasis tebu. (RI)