JAKARTA – Pemanfaatan komoditas mineral di dalam negeri terus digenjot. Salah satu langkah yang ditempuh adalah dengan menghentikan ekspor mineral salah satunya timah menyusul tembaga,  nikel dan bauksit.

Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyatakan tengah mengkaji penyetopan ekspor beberapa komoditas lainnya, termasuk timah. Ekspor barang mentah harus digantikan dengan komoditas hasil industri hilirisasi dalam negeri demi memperkuat posisi ekonomi Indonesia.

“Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Dan tahun ke depan, kita akan mengkaji untuk beberapa komoditas lain, termasuk timah. Tidak boleh lagi kita ekspor barang mentah. Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri,” kata Bahlil pada Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Jumat (13/2).

Lebih lanjut dia menuturkan bahwa program hilirisasi menjadi salah satu program prioritas Pemerintahan untuk mendorong transformasi ekonomi Indonesia.

Pemerintah menargetkan program hilirisasi pada timah bisa menghasilkan seperti nikel dan komoditas lainnya

Pelarangan ekspor bijih nikel pada tahun 2018-2019, berbuah manis dengan total ekspor nikel mencapai 10 kali lipatnya pada periode 2023-2024.

“Total ekspor nikel kita tahun 2018-2019 itu hanya US$3,3 miliar. Dan kemudian begitu kita melarang ekspor, di 2024 itu total ekspor kita sudah mencapai USD34 miliar. 10 kali lipat hanya dalam waktu 5 tahun. Inilah kemudian yang menjadi dorongan pertumbuhan ekonomi yang merata, menciptakan lapangan pekerjaan,” ujar Bahlil.