JAKARTA – Gas dari wilayah Natuna tidak lama lagi akan segera mengalir kembali ke Indonesian seiring dengan adanya kesepakatan Tie In atau penyambungan pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS) – Pemping antara PT. Medco sebagai operator JV Group Pipa Transmisi Gas Offshore WNTS ( West Natuna Transportation System) dan PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI). Keduanya teken TIA ( Tie-in Agreement) & Operating Agreement bersama dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas).

Pipa gas WNTS–Pemping diharapkan menjadi jalur utama penyaluran gas bumi dari wilayah Natuna ke Pulau Batam dan sekitarnya, mengurangi ketergantungan impor energi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi terutama di kawasan strategis Kepulauan Riau.

“Alhamdulilah akhirnya hari ini tgl 29 Januari 2026 di Batam berhasil ditandatangani BA kesepakatan bersama antara Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) PT. Medco sebagai operator JV Group Pipa Transmisi Gas Offshore WNTS ( West Natuna Transportation System), PLN EPI & SKK Migas, terkait TIA ( Tie-in Agreement) & Operating Agreement ,” kata Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas kepada Dunia Energi, Kamis malam (29/1).

Lebih lanjut Djoko menceritakan bahwa pembahasan TIA ini berlangsunn sangat alot sejak lebih dari 10 tahun yang lalu tidak pernah selesai, khususnya terkait Clausul Liabilities yang semula Unlimeted Liabilites menjadi Limited Liabilities.

“Yang semula nilainya ratusan juta dollar amerika kini turun hanya di bawah US$100 juta dan nilai premi asurannya hanya +/- 2% ( kurang dari US$2 juta) yang akan ditanggung bersama antara PLN-EPI dan KKKS JV WNTS,” jelas Djoko.

Menurut Djoko nilai Premi Asuransi seharusnya sudah terbit dari Pialang Asuransi di Inggris, jumat (30/1) sudah bisa dilakukan penandatanganan TIA. “Dan bulan depan sebelum hilal terlihat pertanda bulan suci Ramadhan datang akan dilakukan Groundbreaking dimulainya konstruksi Fisik Pembangunan Pipa WNTS-Pulau Pemping,” ujar Djoko.

Konstruksi WNTS – Pemping diperkirakan tidak akan memakan banyak waktu karena memang jarakny tidak terlalu jauh sehingga maksimal pada semester tahun ini pembangunan pipa ditargetkan sudah rampung. “Dalam semester-1 tahun ini gasnya onstream mengalir dari Natuna kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi,” tegas Djoko.

Pembangunan pipa gas dari ruas West Natuna Transportation System (WNTS) ke Pulau Pemping, Kepulauan Riau sempet mangkrak selama bertahun-tahun. Padahal proyek tersebut ditargetkan selesai pada 2017 silam.

Pipa WNTS merupakan pipa yang terhubung dari Blok A Natuna yang hasil gasnya di ekspor ke Singapura. Pemerintah sudah lama memiliki rencana untuk membuat pipa T di antara WNTS dan menyambungnya, untuk membawa gas Natuna kembali ke Indonesia melalui Pulau Pemping di Batam.

Dalam rencana awal pipa sepanjang 5 km dan berukuran 16 inch dengan kapasitas maksimal bisa mencapai 120 MMSCFD yang akan dibangun tersebut nantinya akan menghubungkan WNTS ke Pulau Pemping, sehingga gasnya bisa digunakan untuk PLN Batam.

Pembangunan pipa sebenarnya sudah menjadi penugasan kepada PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGN melalui Kepmen ESDM Nomor 6105 K/12/MEM/2016 tanggal 19 Juli 2016. Tujuannya, agar pipanya berstatus open access sehingga dapat digunakan oleh masyarakat banyak dengan membayar toll fee yang besarannya ditentukan Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas.

Pembangunan tidak kunjung dimulai karena sempat terkendala mahalnya investasi. Itu sebabnya evaluasi terhadap komponen dan spesifikasi bahan baku pembangunan memakan waktu. (RI)