JAKARTA – Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (KUFPEC), perusahaan hulu migas internasional asal Kuwait masih menaruh minat sangat besar terhadap potensi migas di tanah air.
Jajaran top management KUFPEC bahkan sambangi langsung kantor pusat Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) untuk sampaikan rencana kegiatan KUFPEC di Indonesia.
Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas, menyatakan KUFPEC bahkan segera memulai untuk menggarap loma blok migas baru sekaligus. “CEO KUFPEC ( Perusahaan Hulu Migas terbesar di Negara Kuwait) ke Jakarta khusus lapor telah ambil 5 Blok Migas Baru,” kata Djoko kepada Dunia Energi, Selasa (27/1).
Dalam perjalanannya memburu cadangan migas di Indonesia, KUFPEC kata Djoko tidak sendiri dan sudah sepakat dengan mitranya yang juga pemain global dan sebenarnya muka lama di tanah air.
“Berpartner dengan Shell Upstream ( Perusahaan Hulu Migas terbesar di Belanda berkantor Pusat di Inggris) yang Balik ke Indonesia untuk joint study,” ungkap Djoko.
Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa proses joint study memakan waktu tidak terlalu lama dan setelah selesai tahap selanjutnya blok yang telah dievaluasi akan ditawarkan melalui mekanisme penawaran langsung. “Paling lama enam bulan (joint study),” ungkap Djoko.
KUFPEC menjadi salah satu investor asing yang konsisten beroperasi di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia. Aktivitas KUFPEC di Tanah Air terkonsentrasi di wilayah Laut Natuna, khususnya Natuna Sea Block A dan Kepulauan Anambas, dengan potensi utama gas bumi. Blok ini dikenal sebagai salah satu produsen gas tertua dan paling strategis di Indonesia. KUFPEC bermitra dengan PT Medco Energi Internasional Tbk sebagai operator. Produksi gas dari Natuna Sea Block A berkontribusi signifikan terhadap pasokan energi domestik serta ekspor ke kawasan regional.
Selain Natuna, KUFPEC juga terlibat dalam pengembangan gas di wilayah Kepulauan Anambas, yang masih berada dalam klaster Laut Natuna. Gas dari Anambas direncanakan dialirkan ke fasilitas pengolahan yang telah ada, sehingga menekan kebutuhan pembangunan infrastruktur baru.





Komentar Terbaru