JAKARTA – PT Pembangunan Aceh (Perseroda) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) teken Nota Kesepahaman (MoU) tentang kajian bersama pemanfaatan pasokan gas

Kesepakatan ini diproyeksikan menjadi landasan kuat bagi pengembangan industri hilir berbasis gas bumi, termasuk pemetaan kebutuhan infrastruktur dan identifikasi potensi industri yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi daerah Aceh.

Naufal Natsir Mahmud, Direktur Pengembangan Bisnis PEMA, mengungkapkan bahwa ruang lingkup kajian ini mencakup evaluasi potensi pasokan saat ini hingga proyeksi masa depan, termasuk pemanfaatan Blok Mubadala. Ia menekankan bahwa stabilitas suplai energi menjadi kunci utama untuk membangkitkan ekonomi daerah, terutama dalam masa situasi pemulihan pasca-bencana.

“Dalam upaya untuk membangkitkan roda ekonomi Aceh, dibutuhkan energi yang stabil. PEMA menyadari pentingnya mitra strategis seperti PGN untuk bersama-sama membangun ekosistem gas bumi yang menyeluruh di Aceh,” ujar Naufal dalam keterangannya, Rabu (21/1).

Terkait investasi, PEMA akan melakukan studi mendalam untuk menyusun tahapan pengembangan yang terukur (tier), mulai dari rencana jangka pendek hingga jangka panjang.

“Kami berharap, kerja sama ini dapat memberi kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi Aceh. Kami juga mendorong hilirisasi agar dapat menghadirkan multiplier effect, termasuk penyerapan tenaga kerja yang berkelanjutan bagi masyarakat Aceh,” jelas Naufal.

Ia pun memastikan bahwa sumber daya manusia (SDM) lokal akan diberikan ruang yang luas untuk terlibat dalam operasional bisnis ke depan.

Sementara itu, Mirza Mahendra, Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN melihat Aceh sebagai titik vital (key point) untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam Aceh bagi ketahanan energi nasional. Kerja sama ini menggabungkan pemahaman lokal PEMA, mandat pembangunan daerah, serta kapabilitas nasional PGN di bidang pengelolaan gas bumi.

PGN akan berfokus pada optimalisasi infrastruktur yang menghubungkan sumber pasokan dengan titik permintaan (demand), khususnya untuk mendukung Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Lhokseumawe dan Aceh Besar.

“PGN melakukan pemetaan menyeluruh terhadap potensi pasokan gas, kebutuhan pengembangan infrastruktur, serta potensi demand yang akan dilayani, guna memastikan keterhubungan yang optimal antara sumber gas dan pusat demand di Aceh,” jelas Mirza.

Menurut dia kajian teknis ini akan menentukan apakah distribusi gas nantinya dilakukan melalui jaringan pipa atau dalam bentuk konversi wujud seperti Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquefied Natural Gas (LNG).
“Target realisasi diharapkan lebih cepat sehingga aspek keekonomian dapat terkonfirmasi dan pembangunan infrastruktur dapat segera direalisasikan,” tegas Mirza. (RI)