BALIKPAPAN – Refinery Development Master Plan (RDMP) akhirnya beroperasi secara resmi dengan disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Mega proyek terbesar yang digarap Pertamina sendiri ini dikerjakan selama 10 tahun atau mulai diinisiasi tahun 2016. Waktu pengerjaannya terbilang cukup lama karena berbagai tantangan namun bukan rahasia umum jika ada pihak – pihak yang memang gusar dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, pasalnya setelah RDMP ini selesai maka volume impor BBM Indonesia bakal ber kurang cukup signifikan. Tentu ini bukan kabar baik bagi para pemburu rente.

Realita tersebut bahkan diamini juga oleh Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menyebutkan ada upaya “sabotase” saat RDMP Balikpapan memasuki masa penyelesaian.

Menurut Bahlil, terbakarnya kilang Balikpapan pada Mei 2024 lalu adalah bagian dari upaya ada oknum yang tidak ingin RDMP Balikpapan segera rampung.

“Proyek RDMP ini, Bapak Presiden, banyak dramanya. Saya harus jujur katakan banyak dramanya. Kenapa? Seharusnya sudah jadi tahun awal bulan, awal Mei 2024. Tapi ini, Pak, terbakar. Ada bagian yang dibakar.

Saya tidak mengerti apakah dibakar karena terbakar atau dibakar karena ada faktor lain,” kata Bahlil dalam paparan disela peresmian RDMP Balikpapan, Senin (12/1).

Pemerintah kata Bahlil melakukan investigasi kejadian tersebut. Ternyata memang ditemukan ada indikasi kesengajaan agar Indonesia terus melakukan impor dalam jumlah besar.

“Bulan Agustus, saya memerintahkan tim saya dari Irjen yang sekarang masih komisaris, Bapak Irjen kami, komisaris di Pertamina, Pak Bambang, kami minta untuk investigasi, Pak. Ternyata barang ini, Pak, ada udang di balik batu. Masih ada pihak-pihak yang tidak rela kalau kita itu mempunyai cadangan dan suasem badan energi agar impor terus, impor terus, impor terus,” jelas Bahlil.

RDMP Balikpapan akhirnya benar-benar rampung. Setelah 10 tahun dikerjakan akhirnya RDMP Balikpapan selesai dengan manambah fasilitas Crude Distillation Unit (CDU) sehingga kapasitas pengolahan dan produksi kilang Balikpapan meningkat dari 260 ribu per hari (bph) menjadi 360 ribu bph

Ada juga Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang mampu mengubah residu sisa olahan menjadi produk yang bernilai tinggi dimana BBM yang dihasilkan akan setara dengan EURO V dari sebelumnya hanya EURO II.

Tahun Ini Pemerintah menyebutkan Indonesia sudah tidak lagi menerbitkan izin untuk impor solar CN 48 yang termasuk dalam BBM subsidi sejak awal tahun 2026 dan untuk CN 51 atau solar kualitas lebih tinggi (Non Subsidi) juga dilarang impor mulai semester II tahun 2026.

RDMP Balikpapan, kata Bahlil bisa menghasilkan sekitar 5,8 juta kiloliter (KL) gasoline atau bensin. “Dengan bensin itu kita bisa menghasilkan 5,8 juta KL per tahun. Konsumsi bensin kita sekarang 38 juta KL per tahun. Produksi dalam negeri kita itu 14,25 juta KL. Dengan penambahan 5,8 juta, maka impor kita terhadap bensin itu tinggal 19 juta kiloliter,” ungkap Bahlil.

Proyek RDMP Balikpapan merupakan proyek modernisasi kilang terbesar di Indonesia. Dengan beroperasinya RFCC Complex, Kilang Balikpapan tidak hanya memproduksi bensin dan solar, tetapi juga mampu menambah produksi LPG serta menghasilkan produk petrokimia yang sebelumnya belum dapat dihasilkan di kilang ini.

Kompleksitas Kilang Balikpapan meningkat signifikan, tercermin dari Nelson Complexity Index (NCI) yang melonjak dari 3,7 menjadi 8,0. Semakin tinggi angkanya, menunjukkan kilang lebih kompleks, sehingga mampu menghasilkan lebih banyak produk berkualitas tinggi.

Sementara itu, Yield Valuable Product (YVP) atau imbal hasil produk bernilai meningkat dari 75,3% menjadi 91,8%, atau naik sekitar 16% sehingga menegaskan efisiensi dan daya saing kilang yang semakin tinggi.