JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaku Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) membeberkan bahwa Inpex Masela Ltd telah mengantongi persetujuan dari Kementerian Kehutanan untuk penggunaan kawasan hutan untuk komplek Proyek Abadi Gas Masela.
Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas, menyatakan tahun 2026 proyek Abadi Masela bakal melalui milestone terpenting yakni bisa dimulai dengan tahap konstruksi.
“Seperti contoh misalnya pembebasan 662 kawasan hutan untuk proyek Masela Alhamdulillah sudah di-approve sama Bapak Menteri Kehutanan tinggal kita mengurus amdal satu kali lagi. Mudah-mudahan ini sudah bisa jalan dan tahun depan kita sudah mulai konstruksi,” kata Djoko di Jakarta, Selasa (30/12).
Djoko menjelaskan salah satu kunci utama bisa berlanjutnya Proyek Masela adalah koordinasi yang terjalin baik antara pelaku usaha swasta hingga pemerintah daerah.
“Kita proaktif dan Alhamdulillah ini bisa lebih cepat Dan koordinasi kami dengan daerah juga demikian Jadi kita memenuhi apa yang menjadi keinginan daerah Kita juga minta daerah mempercepat semua proses perizinan,” ujar Djoko.
Proyek Abadi Masela adalah salah satu proyek gas terbesar yang pernah digarap di Indonesia. Meskipun belum berproduksi, usia proyek ini sudah lebih dari satu dekade hanya untuk mengurus berbagai perizinan dan studi kelayakan. Saat ini proses Front End Engineering Design (FEED) sudah berjalan.
Bahkan proyek ini sempat alami pergantian kepemilikan hak partisipasi atau Participating Interest (PI). Shell memutuskan melepas PI nya yang kemudian diakuisisi oleh Pertamina dan Petronas.
Seperti diketahui, lapangan ini memiliki cadangan gas sekitar 18,54 TCF. Setelah beroperasi penuh, kapasitas produksinya akan mencapai 9,5 MTPA LNG, 150 MMSCFD gas pipa, serta sekitar 35.000 BOPD kondensat.
Sejalan dengan pelaksanaan FEED, INPEX juga mempercepat kegiatan pemasaran dan pembiayaan untuk menuju FID serta menjalin kerja sama dengan lembaga keuangan dan bank internasional untuk mendapatkan pembiayaan yang kompetitif.





Komentar Terbaru