JAKARTA – Setelah menjadi subholding gas dibawah PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) menargetkan menambah panjang pipa gas transmisi dan distribusi. Untuk tahun ini total pengembangan pipa mencapai 565 kilometer.

Gigih Prakoso, Direktur Utama PGN,  mengatakan sebagai subhoding gas PGN akan mengelola rantai bisnis midstream dan downstream secara terintegrasi, baik optimasi pasokan, infrastruktur, serta pengelolaan pasar di seluruh wilayah Indonesia. Untuk itu, PGN akan meningkatkan kehandalan penyaluran gas bumi, serta penyediaan gas dengan harga yang kompetitif dengan tetap memperhatikan keberlangsungan usaha penyediaan gas bumi.

Saat ini portofolio subholding gas di bidang infrastruktur sudah sepanjang lebih dari 9.900 km dan pengelolaan pipa jaringan gas rumah tangga sepanjang lebih dari 3.800 km.

Untuk portofolio pengelolaan niaga gas bumi sebesar 919 BBTUD dengan jumlah pelanggan lebih dari 230 ribu. PGN sebagai subholding gas mempunyai pondasi kokoh untuk melanjutkan pengembangan infrastruktur sepanjang kurang lebih 565 km pada 2019,  baik pipa transmisi dan distribusi termasuk upaya terobosan dalam menjaga realibilitas pasokan melalui moda transportasi gas bumi berbasis LNG di Jawa Timur, Jawa Barat dan Lampung.

“Sebagai subholding gas, PGN bersama-sama dengan Pertamina sebagai holding BUMN migas akan selalu menjadi mitra pemerintah dan tools strategic negara untuk mencapai target-target pembangunan infrastruktur dan peningkatan pemanfaatan gas bumi domestik,” ujar Gigih di Jakarta, Jumat (9/8).

Saat ini utilisasi gas bumi juga membutuhkan akselerasi dan kerja sama seluruh stakeholder untuk bisa menopang kemandirian energi yang diharapkan dapat mencapai 22% ditahun 2025. Berdasarkan data realisasi penyaluran gas untuk domestik yang diambil dari laporan tahunan SKK Migas 2018, dari total kontrak penjualan sebesar 1.948 bbtud, realisasi pemanfaatan gas bumi oleh industri domestik hanya sebesar 1.698 bbtud atau berkisar 87% dari total kontrak penjualan. Hal ini diakibatkan salah satunya adalah karena keterbatasan ketersediaan infrastruktur gas bumi yang dapat di akses oleh pengguna gas bumi sektor industri.

“Diharapkan dengan meningkatnya pemanfaatan gas bumi akan memangkas defisit realisasi pemanfaatan gas domestik yang ujungnya akan memberikan dampak signifikan terhadap ketergantungan impor migas dan multiplier effect dari pemanfaatan gas bumi di seluruh sektor, dari kelistrikan, industri, UMKM, transportasi dan rumah tangga,” kata Gigih.(RI)