Jalan Kemang Timur, Jakarta Selatan, Rabu, 28 Oktober 2020. Jarum jam menunjuk angka 11 di arloji siang itu. Di masa silam, di jalan sepanjang 1.200 meter ini banyak dijumpai rumah yang dimodifikasi menjadi galeri yang menjual berbagai hasil kerajinan tangan dari berbagai daerah.

Banyak truk kontainer parkir di sudut-sudut Jalan Kemang Timur menunggu bongkar muat barang yang siap untuk dikirim ke berbagai negara. Truk kontainer itu berisi aneka seni kerajinan yang dibeli oleh para warga asing atau ekspatriat penghuni wilayah Kemang untuk dibawa ke negara asal mereka.

Tapi kali ini Dunia Energi hanya mendapati beberapa galeri saja. Mandiri Art Shop salah satunya, di Jalan Kemang Timur. Mandiri Art Shop berjejer dengan galeri lain yang juga menjual beragam kesenian hasil kerajinan. Hanya ada satu tukang siang itu yang sedang mengamplas kayu di depan Mandiri Art Shop. “Masuk saja mas, Pak Tri ada di dalam,” sapa tukang dengan ramah.

Ketika membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam galeri, Dunia Energi disambut oleh tumpukan ratusan hasil kerajinan. Sebenarnya ruangan itu besar, berukuran sekitar 6×12 meter. Tapi karena tumpukan barang yang membludak, sekadar jalan untuk berkeliling di ruangan saja agak sulit.

Triyono, si pemilik galeri Mandiri Art Shop, menyambut Dunia Energi dan buru-buru memohon maaf karena ruangan yang berantakan. Senyum hangatnya dipadukan dengan sapaan selamat datang logat Jawa menandakan pria ini memang sosok yang menjunjung tinggi nilai budaya.

Dia meminta Dunia Energi duduk di kursi kayu dengan hiasan papan catur lengkap dengan pion eksotis di atas meja yang seketika langsung mencuri perhatian.

Triyono menjelaskan kondisi amburadul di galerinya baru terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Semua bermula saat pandemi COVID-19 melanda dunia pada awal 2020 dan di Indonesia sejak Maret.

“Mohon maaf berantakan numpuk gini, dulu sih nggak pernah begini, tapi sejak pandemi jadi masih ada banyak barang sudah telanjur dibuat belum terjual,” kata Triyono.

Pandemi memang memukul semua sektor terlebih sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang kerajinan. Triyono menceritakan masa jaya usahanya sirna dalam sekejap akibat virus yang berasal dari Wuhan,China menyebar ke seantero bumi termasuk Indonesia dengan sangat cepat.

Tumpukan kerajinan yang tidak sempat terjual di pameran akibat pandemi (Foto/Dunia Energi/Rio Indrawan)

Tumpukan barang di galerinya seyogyanya akan dipajang dalam berbagai ajang pameran yang rencananya digelar tahun ini. Sebagai pengusaha yang menawarkan kerajinan, pameran jadi andalan utama pemasukan. Dalam kondisi normal Triyono mengaku bisa meraup omzet mencapai Rp150juta-Rp200 juta dalam setiap ikut serta saat pameran. Besar memang, tapi itu adalah nilai yang cocok untuk hasil karya seni yang dihasilkan dari perajin kepercayan Triyono. Sementara dalam sebulan biasanya dia bisa mengikuti 2- 3 pameran.

Bermacam hasil kerajinan dijajakan oleh pria 51 tahun ini, mulai dari hiasan Patung Jawa Loroblonyo, Wayang Kulit, aneka furnitur etnik dan minimalis dengan bahan kayu jati daur ulang, serta ada dua produk unggulan, pertama adalah produk olahan tembaga yang biasanya dipadupadankan dengan berbagai peralatan makan atau sekedar hiasan seperti kaleng krupuk (Kriya Logam). Kedua papan congklak atau bahasan jawanya Dakon yang bisa sebagai hiasan ruangan atau juga bisa digunakan bermain congklak.

Triyono adalah potret pelaku UMKM yang lahir bermodalkan nekat, kreatifitas, dan kerja keras. Usahanya dirintis dari nol pada awal tahun 90-an. Pada dekade itu wilayah Kemang, Jakarta Selatan dikenal sebagai kawasan paling elite Ibu Kota. Bukan karena pejabat negara yang tinggal tapi Kemang adalah rumah bagi para ekspatriat atau sebagai pusat pemukiman warga negara asing yang bekerja di Indonesia. Rasanya seperti mimpi untuk menggantungkan nasib di sana.  Tapi bagi sebagian perantau seperti Triyono mimpi itu bukan tidak mungkin untuk dikejar.

Triyono memberanikan diri meninggalkan kampung halamannya di Madiun, Jawa Timur dan merantau ke Jakarta pada 1991. Tidak banyak bekal yang dimiliki kala itu. Dia pun mencoba mengadu nasib atas ajakan sang kakak yang terlebih dulu menjejakkan kakinya di ibu kota. Triyono akhirnya menyerah pada kesempatan pertama, tidak sampai setahun ia “balik kanan” kembali ke Madiun.

Tapi dari kesempatan pertama itu dia banyak belajar dan bertekad untuk kembali ke Jakarta. Tiga tahun setelahnya atau 1994, Triyono benar-benar menepati janji, paling tidak pada dirinya sendiri. Dalam jeda tiga tahun itu dia mempersiapkan rencana jitu untuk terjun dalam persaingan menata hidup di Jakarta. Dia meyakinkan diri pada kesempatan kedua ini bertekad untuk bertarung dan tidak akan kalah dengan kerasnya kehidupan di Ibu Kota.

Triyono mulai memberanikan diri menjajakan barang dagangannya berupa hasil kerajinan khas daerah dari Jawa dan Bali. Keberaniannya menjajakan hasil kerajinan di kawasan Kemang bermula dari ketidaksengajaannya yang sering jalan-jalan sore di sana. Dia melihat banyak ekspatriat asal Amerika Serikat, Kanada, Inggris, India dan Jepang menenteng hasil kerajinan. “Saya pikir sepertinya saya tahu bisa mendapatkan barang-barang itu dimana,”cerita Triyono mengenang awal mula ide berjualannya muncul.

Dia pun memberanikan diri mencari barang-barang kerajinan di Yogyakarta. Triyono ingat beberapa wilayah yang jadi sentral penjualan kerajinan saat dulu sedang tur bersama sekolahnya.

“Saya beranikan diri ke Yogyakarta ke Bantul, waktu itu belum kenal (perajin) waktu SMA pernah tur ke Yogyakarta kayanya ada di sini yang sering dibeli bule, saya nggak ada kerja pengen eksis juga di Jakarta punya modal sedikit ke jawa ambil dua kardus, tawarin aja ke dalam, macam tukang kelontong,” kisah Triyono.

Selain mengandalkan koneksi dengan para perajin daerah, secara tidak sengaja dia menemukan peluang bisnis di tengah Ibu Kota. Saat melintasi wilayah Tanah Abang dia melihat nenek memakai kain batik tulis dan dia pun berinisiatif membelinya. Setelah dicuci baru ditawarkan kepada ke ekspatriat yang ada di Kemang.

“Kan sesama orang Jawa saya tanya, mbah kainnya berapa yang dipakai, Rp5 ribu katanya. Saya bayarin Rp50 ribu, saya bisa jual ke ekspatriat itu antara Rp500 – Rp800 ribu. Saya beli lagi ke mereka (nenek-nenek) Rp200 ribu,” kenang Triyono.

Menurut dia, para ekstpatriat itu tidak mempersoalkan harga karena mereka tahu kualitas dari kerajinan yang ditawarkan.  “Biar bekas tapi itu batik tulis asli. Kebanyakan orang Jepang yang sangat berminat, mereka jeli kalau soal kualitas,” ujar Triyono.

Saat merintis usahanya dia memang tidak malu sambangi rumah demi rumah “bule-bule” di Kemang. Dia menceritakan para ekspatriat itu justru senang didatangi seperti itu. Seiring waktu berjalan justru Triyono yang kerap diundang dalam berbagai acara komunitas warga asing yang menetap di Indonesia khususnya di Jakarta. “Saya tawarin saja door to door, terus lama-lama malah diundang ke morning call gitu, acaranya komunitas mereka. Itu seminggu hampir dua sampai tiga kali, bawa dua dus pasti ludes,” kata Triyono.

Ketekunan Triyono membuahkan hasil. Tiga tahun dia berjualan dari pintu ke pintu sebelum akhirnya membuka Mandiri Art Shop di Jalan Kemang Timur. Di sana bisnis Triyono terus tumbuh, tidak hanya diminati bule tapi juga warga lokal yang mulai sadar dengan keindahan kerajinan khas daerah.

Mandiri Art Shop, salah satu galeri seni kerajinan yang masih bertahan di wilayah Kemang (Foto/Dunia Energi/Rio Indrawan)

Informasi itu pun menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut. Hingga banyak warga asing rekan para ekspatriat, ikut membeli produk milik Triyono. Dulu seteiap akhir pekan kawasan Kemang kata dia selalu ramai. Para ekspatriat sibuk memilih souvenir hasil kerajinan daerah. Kemudian langsung dikirim satu kontainer ke negara asal mereka. “Itu mereka sampai selip-selipin, nggak ada celah kosong pokoknya di kontainernya,” ungkapnya.

Dengan makin besarnya usaha yang dijalani, dia bekerja sama dengan perajin yang dapat membantu usahanya. Satu orang perajin kayu di Wonogiri dan satu orang perajin tembaga di Yogyakarta. “Satu orang lagi bantu di Jakarta,” ujarnya.

Dari usahanya ini juga Tri dipertemukan dengan pujaan hati yang sekarang. Seorang istri yang setia mendampinginya merintis usaha. “Dulu istri kerja di galeri di Bali tapi setelah di Jakarta usaha sudah bisa beri kepastian dia pindah, lebih jago dia soal seni,” katanya sambil tersenyum mengingat momen pertemuan dengan sang istri.

Ada berbagai produk yang dijajakan di galerinya seperti produk kriya logam dan kayunya dipatok dengan harga bervariatif. Mulai dari harga Rp 100 ribu untuk produk bros atau ring serbet. Sedangkan produk termahalnya berupa patung tembaga yang dibanderol dengan harga Rp 45 juta. Omzet yang didapat dari hasil usahanya berkisar Rp40juta – 50 juta per bulan.

Salah satu capaian tertinggi dalam merintis karir sebagai pengusaha adalah ketika barang yang dijajakannya dilirik dan diborong oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada pagelaran International Craft Trade Fair (Inacraft) 2016. Setelah membuka acara, presiden Jokowi berkesempatan berkililing dan singgah di booth Triyono. “Beliau beli kaleng kerupuk, gelas, dan ring serbet. Kemudian beberapa hari setelahnya saya juga mengantarkan barang langsung ke bagian rumah tangga Istana Kepresidenan,” ujar Triyono.

Lebih dari 15 menit Jokowi memilih melihat dan memberikan semangat kepada Triyono untuk tetap berwirausaha. “Pak Jokowi lama di booth saya sekitar 15-20 menit itu senang sekali saya. Selain beliau ada Ibu Iriana dan Ibu Mufida Jusuf Kalla. Beliau nanya apa, saya jawab. Dia bilang produknya bagus banget, dia apresiasi kerajinan kita,” ujar Triyono.

Momen itu jadi yang tidak terlupakan bagi Triyono dan istri. Sebagai kenang-kenangan ia menyimpan rapih dan memajang fotonya bersama produk kerajinan dan presiden di dalam kaleng kerupuk logam kesukaan Pak Presiden. “Siapa yang nggak senang daidatengi, foto sama RI 1, dibeli juga produknya,” kata Triyono sumringah.

Presiden Joko Widodo saat memborong produk Triyono (Foto/Dok/Triyono)

 

Tidak akan Kalah dengan Pandemi

Usaha Triyono sebenarnya tidak selalu mulus. Jatuh bangun sudah dialaminya. Rekan-rekan sesama penjual barang-barang kerajinan di kawasan Kemang juga semakin berkurang. Jalanan Kemang menurut dia sudah tidak seramai dulu. Ada yang menyerah setelah diterpa krisis ekonomi, ada juga yag lempar handuk setelah bisnis kerajinan lesu akibat gejolak ketidakpastian keamanan akibat beberapa kali ada kejadian aksi terorisme di Jakarta. Maklum, para pengusaha di kawasan Kemang memang sangat bergantung pada keberadaan ekspatriat. Ketika Jakarta tidak aman, para ekspatriat pasti mengurangi mobilitasnya bahkan pulang ke negara asal mereka.

Tapi itu semua masih bisa dilaluinya. Cobaan baru kembali datang. Ketegaran Triyono dalam menjalankan bisnisnya kembali diuji. Kali ini lawan tak kasat mata yang dihadapi.

Triyono mengakui dampak pandemi sangat besar terhadap usahanya. Omzetnya anjlok 80% – 100%. Istrinyapun kini sudah tidak lagi membantu di galeri dan coba peruntukan di dunia kuliner untuk membantu perekonomian keluarga. Triyono sampai harus berutang kepada para penrajin yang selama ini menjadi rekanannya. Padahal kondisi itu tidak pernah terjadi sebelumnya.

Triyono menceritakan sudah mempersiapkan produk hasil kerajinan untuk dipamerkan pada April lalu dalam gelaran Inacraft 2020. Tapi akibat pandemi acara tersebut batal. Hal serupa terjadi di beberapa pameran yang sudah masuk jadwal Triyono.

“Kami sudah telanjur bikin barang banyak misalnya kemaren Inacraft pas April, sudah dibuat tukang, modal sudah dihabiskan tapi pameran nggak jadi terpaksa tukang sebagian kami utang dulu,” katanya.

Meski begitu dia mengaku tidak akan megikuti jejak rekannya dulu yang menutup galeri dan banting stir ke usaha lain. Triyono memantapkan dirinya untuk setia. Dunia seni kerajinan sudah telanjur jadi bagian hidup Triyono dan tidak akan ditinggalkan begitu saja. “Nggak lah (tutup galeri), cuma ini usaha yang saya bisa kerjain,” kata Triyono.

Angin segar berhembus belum lama ini. Mandiri Art Shop lolos menjadi salah satu UMKM mitra PT Pertamina (Persero). Triyono mengaku sangat bersyukur dengan adanya program kemitraan Pertamina karena momennya sangat tepat. “Dapat bantuan kemitraan dana pinjaman membangkitkan UMKM di masa pandemi ini. Momennya pas juga terus terang saya sangat bersyukur,” kata Triyono.

Dia mengaku mendapatkan dana bantuan dalam bentuk pinjaman sangat lunak sebesar Rp150 juta dengan tenor tiga tahun. Triyono menyambut baik skema pinjaman yang diberikan Pertamina lantaran bunga sangat amat rendah. Dia hanya dikenakan biaya administrasi yang tidak sampai Rp10 juta. Skema pinjaman seperti inilah yang sangat dinantikan para pelaku usaha khususnya pada masa pandemi.

Dana pinjaman dari Pertamina langsung dialokasikan untuk melunasi utang para perajin rekananannya lalu disisihkan juga untuk kembali membuat stok kerajinan yang dipersiapkan untuk pameran selanjutnya ketika pandemi telah berakhir. “Pinjaman, tapi yang sangat lunak cuma dikenakan biaya admin nggak ada bunga dan itu terus terang sangat membantu buat UMKM. Ada bantuan dari Pertamina bisa lunasi utang tukang, bisa lunasin barang dan buat barang baru lagi untuk persiapan pameran kalau pandemi selesai,” jelas Triyono.

Selain pendanaan, bantuan berbagai pelatihan juga akan diikuti Triyono. Menurut dia, ini baik untuk tingkatkan kualitas produknya baik dari sisi kualitas maupun teknik pemasaran. “Ada beberapa pelatihan memang sudah dijadwalkan,” ujarnya.

Rudi Ariffianto, Manager Small Medium Enterprise Program (SMEPP)/Program Kemitraan Pertamina, menjelaskan pandemi membuat shifting dan adaptasi mau tidak mau harus dilakukan menyesuaikan dengan situasi yang ada, baik dari aspek penyaluran maupun pembinaan. Beberapa contoh perubahannya adalah sosialisasi yang dulu kerap dilakukan secara fisik karena pandemi dioptimalkan penggunaan sarana digital atau online. Demikian juga pembinaan dioptimalkan penggnaam platform digital untuk memfasilitasi pembinaan UMKM, misalnya pelatihan-pelatihan melalui aplikasi meeting maupun WhatsApp dan disiarkan live di youtube dan juga instagram live.

“Bahkan kami juga menyediakan platform e-learning, yaitu www.belajarumkm-pertamina.com yang disusun berdasarkan kurikulum yang juga sudah kita susun bersama tim ahli dan melibatkan UMKM juga untuk mendengar aspirasi mereka,” jelas Rudi kepada Dunia Energi.

Menurut Rudi, Pertamina juga mendorong UMKM mitra binaanya untuk adaptif. Salah satu adaptasi yang didorong adalah agar UMKM yang melek digital karena pasar digital lebih bisa bertahan dalam situasi pandemi. “Oleh karena itu, kami terus mendorong agar lebih banyak lagi UMKM kita yang bisa memanfaatkan paket data yang mereka miliki untuk mendukung bisnis mereka. 131 kali pelatihan kita lakukan, 45-50 materinya bicara soal cara memanfaatkan pasar digital,” kata dia.

Salah satu bentuk upaya mencari jalan keluar yang diupayakan perusahaan migas plat merah ini untuk menggenjot produktivias mitranya adalah pelaksanaan Pertamina SMEXPO 2020 yang cukup sukses pada September lalu. Pun  kerjasama dengan pengelola e-commerce untuk memberikan pelatihan khusus kepada 66 mitra binaan terpilih untuk diberikan kesempatan memperoleh biaya pembinaan dari Pertamina berupa pemanfaatan fitur-fitur berbayar di e-commerce agar mereka bisa mendapatkan sales yang baik. “Pertamina SMEXPO itu kawah candradimuka, e-commerce adalah persaingan sebenarnya,” ungkap Rudi.

 

Sumber : Pertamina

Dia menjelaskan Pertamina tetap terbuka bagi UMKM yang ingin menjadi mitra perusahaan dengan kriteria antara lain WNI, usaha berdiri sendiri bukan afiliasi dari usaha lainnya, boleh perorangan, badan usaha tidak berbadan hukum atau berbadan hukum. “Omzet tidak lebih dari Rp2,5 miliar per tahun, dan aset tidak lebih dari Rp500 juta di luar tanah dan bangunan,” kata Rudi.

Fajriyah Usman, Vice President Corporate Communication Pertamina, mengatakan upaya Go Global UMKM mitra binaan Pertamina dapat di lakukan dengan berbagai cara. Salah satunya seperti yang dilakukan Triyono. Selain itu juga terdapat upaya lain yang telah disusun dalam Program Kemitraan. ”Terdapat business forum dan business matching dengan buyer asing untuk memperkenalkan produk UMKM kita ke pembeli asing,” ujarnya.

Sebelum itu, biasanya Pertamina akan memberi perhatian lebih pada pembinaan dasar terlebih dahulu. Seperti membantu dapat pengurusan izin usaha atau sertifikat lain. Setelah itu mendorong dari UMKM tradisional menjadi Go Modern, Go Digital, Go Online, hingga Go Global. ”Ini sebagai implementasi Goal 8 Sustainable Development Goals (SDGs). Diharapkan dapat membantu masyarakat mendapat pekerjaan yang layak dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Fajriyah.

Komitmen Pertamina untuk mendorong kemajuan dan kemandirian UMKM terus terbukti. Kali ini, melalui Program Kemitraan (PK), Pertamina menggelar Pilot Project Pendampingan UMKM Naik Kelas yang telah menyalurkan modal usaha sebesar Rp 3,3 miliar hingga pertengahan September 2020. Jumlah tersebut akan terus meningkat hingga total penyaluran sebesar Rp 100 miliar.

Berdasarkan data Pertamina hingga pertengahan September ini, nilai penyaluran sebesar Rp 3,3 miliar tersebut sudah tersalurkan untuk wilayah Jawa Timur, Bali, dan DKI Jakarta. Sementara itu sedang dalam proses pemberkasan, sebagian UMKM di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten yang akan segera diselesaikan dalam waktu dekat.

“Kami berharap dengan Program Kemitraan ini, UMKM memiliki kesempatan kembali dalam meningkatkan usahanya dan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk berdaya di tengah pandemi COVID-19 yang sedang melanda dunia,” kata Fajriyah.

Selain berupa penyaluran dana modal usaha, program kemitraan juga menggandeng Institusi yang kompeten untuk pengembangan usaha UMKM yang berisi pendampingan bagi UMKM. Mencakup program pelatihan, mentoring dan coaching yang tahapannya dilaksanakan secara berjenjang dan akan dimonitor perkembangannya ke masing-masing mitra binaan untuk menilai efektivitasnya.

Upaya ini merupakan salah satu bentuk implementasi Goal 8 Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan serta tenaga kerja penuh dan produktif. Melalu program ini diharapkan dapat membantu masyarakat mendapat pekerjaan yang layak dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Pertamina menggelontorkan Rp580 miliar tahun ini untuk program pembinaan para mita Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang berlokasi di berbagai wilayah Indonesia dan sekitar area operasi perusahaan. Hingga Agustus 2020, Pertamina mencatatkan ada 1.141 mitra baru.

Risna Resnawaty, Pakar Corporate Social Responsibility (CSR) dan Ketua Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran, mengungkapkan program kemitraan  merupakan bagian dari PKBL (Program kemitraan dan Bina Lingkungan) , program  PKBL ini wajib dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Seriring dengan berkembangnya terminologi CSR, program PKBL kemudian kalah populer dibanding CSR.

“Pada masa pandemi ini, program kemitraan nampaknya digalakkan lagi untuk mendongkrak geliat berwirausaha pada masyarakat agar roda perekonomian menjadi semakin sehat,” kata Risna kepada Dunia Energi.

Menurut dia, kredit ekstra lunak untuk membantu permodalan bagi usaha kecil ini sangat baik. Hanya saja, Risna mengingatkan, harus tetap ada pendampingan karena jangan sampai kejadian seperti yang sudah-sudah dimana program kemitraan sering dianggap sebagai hibah sehingga dana yang seharusnya produktif menjadi dana konsumsi sehari-hari.

“Intinya program bantuan modal di masa pandemi, namun harus tetap diiringi dengan program lain, misalnya peningkatan kapasitas pengusaha karena tantangan dalam berwirausaha saat ini tidak sama dengan situasi sebelum pandemi dulu,” jelas Risna. (Rio Indrawan)