JAKARTA – Pandemi Covid-19 dipastikan memberikan dampak yang tidak sedikit kepada masyarakat, terutama dalam kemampuan ekonomi yang melemah. Masyarakat perlu mendapatkan pendampingan dan dukungan menghadapi pandemi.

Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Terminal Tanjung Wangi gerak cepat untuk mendukung warga yang terdampak Covid-19 dengan menginisiasi program Pelita (Peningkatan Ekonomi Lingkar Ketapang). Ada beberapa lini usaha seperti hidroponik, frozen food, rengginang, cuci motor, bakso, konveksi kerajinan bambu serta pengolahan sampah.

Tunggul Harwanto, Pendiri Rumah Literasi Indonesia (RLI) yang merupakan mitra binaan Pertamina Tanjungwangi, menceritakan sebenarnya roadmap yang dirancang sejak 2020 adalah untuk program Pelita, namun karena timbulnya bencana pandemi pada 2020, program juga diarahkan dalam penanganan bencana.

‚ÄúPada 2021 inovasi dan optimalisasi program, 2022 penguatan kelembagaan, 2023 replikasi program, 2024 bisa mandiri,” ungkap Tunggul disela Proving League; Kesaksian Local Hero Dalam Memperluas Manfaat CSR BUMN yang digelar Editor Energy Society (E2S), Sabtu (9/10).

Menurut Tunggul, selama masa pandemi, lini usaha yang diusung dalam program Pelita terbukti mampu membuat warga bernapas lega karena masih ada pemasukan yang berasal dari beberapa kegiatan sederhana.
Tunggul menuturkan penghasilan rata-rata per bulan per orang dari unit usaha yang dikelola misalnya imaji studio menciptakan produk digital yang mampu menghasilkan sekitar Rp1,1jt/orang/bulan. Lalu ada konveksi Rp150 ribu tumbuh menjadi Rp500 ribu selama tahun 2021, kerajinan bambu juga tumbuh dari Rp300 ribu pada tahun 2020 menjadi rata-rata Rp 500 ribu. “Jadi rata-rata masih memiliki pemasukan bahkan meningkat pada 2021,” ujar Tunggul.

Dia menceritakan program yang paling banyak memberikan manfaat kepada masyarakat adalah soal isu sampah. Tunggul menuturkan desa Ketapang kini menjadi kampung recycle, masyarakat mulai memilah sampahnya. “Dengan demikian kegiatan pengelolaan sampah ini warga jadi sadar tidak buang sampah ke sungai tapi ada yang dimanfaatkan dan sebagian dibuang ke TPS,” ujarnya.

Kedua adalah lini usaha hidroponik. Lini ini menurut Tunggul banyak dipilih warga untuk dilakukan di rumah ataupun secara berkelompok. Hal istimewa usaha hidroponik bukan dilakukan oleh petani karena itu dia mengajukan kerja sama pelatihan hidroponik dengan Pertamina. Usaha hidroponik dinilai paling menjanjikan dari sisi ekonomi karena pembeli tidak hanya pedagang sayur tapi juga UMKM.

“Jadi UMKM lain aja belinya ke kami seperti rumah makan atau restoran, homestay yang awalnya mereka susah cari sayur nah mereka jadi beli ke kita juga, jadi ada multiplier effect,” kata dia.

Kemudian lini usaha yang paling berdampak berikutnya atau ketiga adalah usaha cucian motor yang berikan dampak luar biasa karena dikelola oleh anak sekolah, atau yang telah lulus sekolah dan belum bekerja mereka jadi memiliki pemasukan. “Jadi bisa berikan dampak perekonomian mereka,” ungkap Tunggul.

Sementara itu, Muhammad Ali Ba’bud, Terminal Manager Pertamina Tanjung Wangi, menyatakan Pelita merupakan program unggulan Pertamina Tanjungwangi sebagai respons juga terhadap pandemic Covid-19.

Ali menegaskan program Pelita bukanlah satu-satunya program pemberdayaan masyarakat yang dimiliki Pertamina Tanjungwangi. Namun karena berbagai program sudah diinisasi sudah berlangsung lama maka para mitra binaannya juga sudah melalui tahapan exit program. Ini penting sehingga para mitra tidak bergantung terus kepada program Pertamina.

Beberapa program yang telah lulus dan kini telah berdiri sendiri misalnya Program konservasi penyu pantai cemara. Sedangkan program yang masih berjalan seperti program panca pesona, program bangsring underwater yaitu konservasi terumbu karang, program jemparing wangi yaitu pelestarian bambu dan biogas, program saru sandang. “Lalu salah satu program yang sedang berjalan sekarang yaitu program Pelita merupakan unggulan kami,” kata Ali. (RA)