JAKARTA – PT Pertamina (Persero), sebagai induk usaha (holding) BUMN minyak dan gas yang menaungi PT Perusahaan Gas Negara Tbk, mengkaji swap antara PT Pertamina Gas (Pertagas) dengan PT  Saka Energi Indonesia, anak usaha PGN.

Nicke Widyawati, Direktur Logistik Supply Chain dan Infrastruktur Pertamina, mengatakan mekanisme swap diharapkan tidak akan menganggu keuangan PGN saat mengakuisisi Pertagas.

“Bisa jadi (swap), itu salah satu opsi. Tapi yang pasti kan semua di valuasi dulu, mekanismenya seperti apa nanti jangan sampai cash flow PGN bermasalah” kata Nicke saat ditemui di Gedung DPR Jakarta, Senin
(16/4).

Jika swap bisa direalisasikan, Saka akan menjadi anak usaha Pertamina dibawah Direktorat Hulu.

Tahap pembentukan holding migas  hanya tinggal menyisakan mekanisme penyatuan PGN dan Pertagas. Holding migas menargetkan proses penyatuan tersebut segera rampung dan bisa optimal beroperasi pada empat bulan ke depan.

“Targetnya sih, kapan ya. Empat bulan lah. Kan tanggal lahirnya 11 April 2018. Mudah-mudahan lancar,” ungkap Nicke.

Jobi Triananda Hasjim, Direktur Utama PGN, mengatakan hal utama yang akan segera dilakukan oleh manajemen PGN adalah bertemu dengan manajemen Pertagas untuk membahas bersama nilai akuisisi.

Pertemuan dengan manajemen Pertagas sangat penting bagi PGN untuk memastikan perhitungan bisa jelas dan transparan. Serta bisa langsung dilakukan integrasi berbagai program di midstream dan downstream gas.

“Asetnya dibuka, mana yang bisa segera operasikan bersama, kami operasikan dan yang duplikasi dicegah. Jika di RKAP ada investasi di daerah yang sama, kami stop. Kami masukan ke daerah-daerah yang belum masuk RKAP PGN dan Pertagas,” tandas Jobi. (RI)