JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mengungkapkan sisa gas dari blok South Andaman yang belum terjual sudah mulai memiliki titik terang dengan adanya minat dari industri yang akan membangun fasilitasnya di Aceh.

Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas mengungkapkan masih ada sekitar 140 MMscfd gas pipa yang semula belum ada kepastian pembeli. Namun baru saja ada pelaku usaha Petrochemical yang menyatakan kesiapan untuk menyerap sisa gas tersebut.

“Saya baru dapat masukan informasi, dikirim oleh ke saya, sisa gas pipa yang belum diserap, itu akan diserap oleh kilang (petrochemical) yang akan dibangun di Aceh,” kata Djoko usai menutui gelara Forum Ekonomi (FOREK) Hulu Migas 2026, Kamis sore (29/10).

Perjanjian lebih lanjut masih akan dibahas, namun yang terpenting sudah tidak ada masalah dari sisi harga gas. “Alhamdulillah hari ini mereka menyatakan sanggup harganya US$9 per MMBTU,” ungkap Djoko.

Meskipun belum bisa membeberkan industri atau siapa yang akan menyerap, namun dia mengungkapkan perusahaan asal Malaysia yang berencana akan membangun fasilitas produksi petrochemical. “Di Aceh yang bikin kilang minyak dan Petrochemical, kilang baru kerja sama dengan perusahaan asal Malaysia,” kata Djoko.

Blok South Andaman dikelola oleh Mubadala Energy dan diproyeksikan bisa mulai menyemburkan gas pada tahun 2028. Sementara estimasi produksi gasnya ditargetkan bisa mencapai 312 MMscfd serta ada juga kondensat sebanyak 7.500 BCPD. Selain akan diserap industri, gas dari South Andaman juga sudah dibeli oleh PLN untuk kebutuhan pembangkit listrik sebesar 160 MMscfd.

Cadangan gas dari lapangan Tangkulo blok South Andaman diperkirakan mencapai 1 Triliun Cubic Feet (TCF), adapun pengembangan selanjutnya dari lapangan Selayar dan lapangan terdekat lainnya dengan total cadangan gas yang telah ditemukan sebesar 10 TCF.

South Andaman sejak awal eksplorasi menggunakan skema kontrak gross split. Saat ini Mubadala Energy memegang participating interest (PI) sebesar 80 persen, sedangkan Harbour Oil memiliki 20 persen yang rencananya akan dilepas melalui mekanisme farm-out. (RI)