Dunia Energi Logo Senin, 20 November 2017

WMO Operasikan Kembali Anjungan Lepas Pantai PHE-40

JAKARTA – Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) akan kembali mengoperasikan anjungan lepas pantai, PHE-40. Pengoperasian kembali anjungan yang ditabrak kapal barang pada tahun 2010 itu diawali dengan pelepasan PHE-40 di Tanjung Priuk, Jakarta, Senin, 10 September 2012.

 

Anjungan akan dikirim ke lokasi blok WMO yang ada di 70 mil lepas pantai Kabupaten Sampang, Madura. Pemasangan anjungan PHE-40 rencananya dilaksanakan pertengahan hingga akhir September 2012. ”Produksinya dimulai awal November 2012,” kata Deputi Pengendalian Operasi Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS), Gde Pradnyana, dalam seremonial pelepasan itu.

 

Hadir pula dalam seremonial tersebut Direktur Utama PHE, Salis Aprilian, dan Senior Executive Vice President & General Manager, PHE WMO, Imron Asjhari.

 

Saat tertabrak kapal barang pada 11 Agustus 2010, anjungan PHE 40 (dulu bernama KE-40) mampu memproduksi minyak 1.600 barel per hari (bph) dan gas sekitar 15 juta kaki kubik per hari. Lapangan ini mulai produksi tahun 2005. Mencapai produksi puncak sebesar 9.500 bph dan 38 juta kaki kubik per hari pada 2007.

 

Seperti diberitakan, akibat tertabrak kapal barang, posisi anjungan PHE-40 mengalami kemiringan hingga 17,5 derajat. Meski dalam posisi aman tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, anjungan itu perlu perbaikan agar bisa dioperasikan untuk memproduksi minyak dan gas lagi. “Dengan pengoperasian kembali anjungan PHE-40 ini diharapkan produksi PHE WMO bisa ditingkatkan,” kata Gde.

 

Saat ini, produksi minyak blok WMO berkisar 10.500 bph. Selain mengoperasikan anjungan PHE-40, PHE WMO bersiap mengoperasikan tiga anjungan baru. Kini, anjungan masih dalam proses penyelesaian pembangunan. Sesuai kontrak pembangunan tiga anjungan baru tuntas akhir September.

 

Ketiga anjungan baru yang diberi nama PHE-38B, PHE-39 dan PHE-54 itu sangat penting untuk mendongkrak produksi minyak dan gas di Blok WMO. Tahun 2012, PHE WMO merencanakan mengebor 21 sumur yang terdiri dari sembilan sumur eksplorasi, 12 sumur pengembangan, dan 15 sumur kerja ulang (work over). “Akhir tahun, produksi PHE WMO ditargetkan terdongkrak pada kisaran 21.000 bph,” kata Salis.

 

Blok WMO pernah memproduksi 26 ribu bph pada tahun 2010. Tetapi percepatan penurunan produksi blok ini sangat cepat. Oleh karena itu harus dibarengi dengan kecepatan penambahan fasilitas pengeboran dan penyediaan fasilitas baru. Kerja keras menambah sumur-sumur baru itu belum bisa langsung meningkatkan kapasitas produksi Blok WMO secara signifikan.

 

Pasalnya, pada saat blok WMO diserahkan pemerintah pada PHE sebagai anak perusahaan Pertamina, Blok WMO sedang mengalami penurunan signifikan produksi pada sumur-sumur lamanya.

 

Saat diserahkan 7 Mei 2011, produksi Blok WMO sekitar 13.000 bph, tinggal 50 persen dibanding produksi tertinggi sebelumnya yang mencapai 26.000 bph. Penurunan produksi itu tidak bisa dihindari karena tiadanya investasi baru sejak Agustus 2010 menyusul ketidakjelasan perpanjangan kontrak pengengolaan Blok WMO.

 

Imron menambahkan, PHE WMO memiliki target bisa memproduksi minyak 40.000 bph dan 210 juta kaki kubik gas per hari pada tahun 2016 atau setara 75,000 barel minyak ekuivalen barel per hari (boepd). Untuk mencapai target tersebut, kata Imron, PHE WMO akan melakukan pemboran lebih dari 25 sumur eksplorasi dan 75 sumur pengembangan, kerja ulang lebih dari 10 sumur,  perawatan pada 37 sumur, serta pemasangan lebih dari 10 anjungan baru sampai tahun 2016.

 

Gde Pradnyana menambahkan, bahwa pelaksanaan sail-out hari ini menandai satu tonggak baru bagi Pertamina, khususnya Pertamina Hulu Energi (PHE). Untuk pertama-kalinya dalam sejarah Pertamina membangun sebuah anjungan lepas pantai.

 

Tentu hal ini menandai penguasaan teknologi dan manajemen yang semakin baik dan membuat Pertamina makin percaya diri. Jika di era yg lalu Pertamina agak mengabaikan kegiatannya di hulu dan lebih sering menyerahkan pengelolaan wilayah kerjanya kepada pihak asing, maka di era reformasi ini Pertamina tampak makin menunjukan kemampuannya untuk mengelola sendiri wilayah kerjanya.

 

Pertamina kini menjadi makin sehat dan kuat. Dulu produksi Pertamina hanya sekitar 70 ribu barel, kini sudah mencapai 130 ribu barel dan diharapkan akan terus meningkat di masa mendatang. (Abdul Hamid/duniaenergi@yahoo.co.id)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)