Dunia Energi Logo Selasa, 22 Mei 2018

Tidak Ada Penyesuian Asumsi Harga Batu bara, PLN Klaim Rugi Hingga Rp 14 Triliun

JAKARTA – Kenaikan harga batu bara acuan (HBA) sepanjang 2017 membuat kinerja keuangan PT PLN (Persero) terus tertekan. Pasalnya,  peningkatan komponen biaya produksi tidak diimbangi tambahan pemasukan.

Supangkat Iwan Santoso, Direktur Pengadaan Strategis PLN, mengungkapkan kondisi harga batu bara memberikan pengaruh signifikan terhadap keuangan PLN. Apalagi pembangkit listrik PLN saat ini didominasi pembangkit bertenaga  batu bara.

“Pastilah (berpengaruh), karena biaya kami kan berapa persen dari batu bara. Pengaruhnya sangat signifikan,” kata Iwan saat ditemui di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jakarta, Senin (5/2).

Tidak tanggung-tanggung, selama 2017 kerugian yang dialami PLN bahkan mencapai Rp 14 triliun. Angka tersebut diakibatkan HBA yang diasumsikan dalam RKAP US$ 60-an per ton, pada realisasi mencapai sekitar US$ 80-an per ton.

“Nah ketika rata-rata di US$ 80 per ton sekian, itulah yang dampak menjadi Rp 14 triliun. Tapi kami tidak bisa minta ganti nih, subsidi sudah tidak ada,” kata Iwan.

Untuk mencegah kerugian lebih besar pemerintah memfasilitasi PLN dan pelaku usaha tambang batu bara untuk  menetapkan sistem atau formulasi yang pas bagi semua pihak. Namun hingga sekarang belum ada kesepakatan antara PLN dan pelaku usaha.

“Jadi nanti mana yang fair, kami juga harus paham apakah pake cost plus margin, apakah pakai indeks ICP,  atau pakai HBA diskon. Tapi belum (diputuskan),” ungkap Iwan.

Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), mengungkapkan fluktuasi harga batu bara harus tetap diperhatikan dalam penetapan regulasi nanti. Formulasi diharapkan bisa mengatasi dampak dari perubahan tersebut.

“Kami cari yang terbaik, kalau dari sisi kami ya tentunya perspektifnya beda. Jadi pasti harga perlu dipertimbangkan juga, dan fluktuasi harga juga,” kata Hendra.

Baca juga  Pertahankan Produksi Alasan Pemerintah Prioritaskan Kontraktor Eksisting

Bambang Gatot Ariyono, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, masih belum mau berkomentar banyak mengenai formulasi harga batu bara untuk pembangkit.

“Menunggu kesepakatan mereka kan (Pengusaha dan PLN). Mereka nanti bicara dulu, nanti dirapatin lagi,” tandas Bambang.(RI)

Tinggalkan Komentar