Dunia Energi Logo Senin, 20 November 2017

Swasembada BBM Tidak Bisa Hanya Ditopang Produksi Minyak Mentah Lokal

JAKARTA – Seiring pengoperasian Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC) Cilacap dan Kilang Trans Pacific Petroleum Indotama (TPPI) Cilacap dan TPPI, sejak Mei 2016 PT Pertamina (Persero) sudah tidak mengimpor solar, bahkan sudah surplus karena produksi nasional sudah mencapai 51 juta barel. Dan 2023 akan terjadi swasembada BBM karena produksi kilang mencapai dua juta barel per hari.

Dirgo mengatakan kunci untuk menunjang swasembada BBM adalah meningkatkan produksi minyak mentah di dalam negeri dan jika memungkinkan meningkatkan program “farm in” ladang-ladang minyak yang beroperasi di Indonesia.

“Serta di kawasan Timur Tengah seperti Irak, Iran dan Kuwait yang mempunyai kualitas minyak light crude,” ujar Dirgo Purbo, Staf Pengajar Geoekonomi Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Sabtu (9/7).

Unit RFCC mengolah feed stock berupa LSWR (Low Sulfur Waxy Residue) sebanyak 62.000 barel per hari (bph) menjadi produk bernilai tinggi, yaitu HOMC 37 ribu bph. Dari produksi HOMC tersebut, sebagian besarnya diproses lebih lanjut untuk diproduksikan menjadi premium. Sehingga, produksi premium dari kilang Cilacap naik dari 61 ribu bph menjadi 91 ribu bph.

Sementara itu kilang TPPI dapat mengolah sekitar 100 ribu barel per hari kondensat dan naphta. Dari pengolahan bahan baku dengan mogas mode akan diperoleh beberapa produk minyak, seperti LPG, Solar, Fuel Oil, Premium, dan HOMC. TPPI dapat menghasilkan sekitar 61.000 bph premium, 10.000 bph HOMC, dan 11.500 bph solar.

Ferdinand Hutahean, Direktur Eksekutif Energi Watch Indonesia, mengatakan untuk menuju swasembada BBM pada 2023 bukan hal mudah jika tidak dilakukan upaya yang kompeherensif. Paling utama yang harus dilakukan adalah pembangunan kilang minyak hingga mencapai kapasitas minimal dua juta barel perhari, meningkatkan bauran energi dengan bio energi serta substitusi energi.

“Untuk mengoptimalkan kilang kita tidak hanya bisa berpangku pada minyak mentah lokal. Masalahnya juga belum tentu minyak mentah kita cocok spek-nya diolah dikilang yang ada. Jadi tetap harus ada kerja sama jangka panjang dengan produsen minyak dari luar,” ungkap dia.(RA)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)