Dunia Energi Logo Jumat, 22 September 2017

Selangkah Lagi, Harga Minyak Tembus US$50 per Barel

JAKARTA – Penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat yang meningkatkan ekspektasi pengetatan pasar global mendorong harga minyak makin mendekati level US$50 per barel. Patokan Amerika Serikat, miyak mentah West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman Juli naik 94 sen menjadi US$49,56 per barel di New York Mercantile Exchange pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB).

Di London, minyak mentah Brent North Sea yang menjadi patokan Eropa, untuk pengiriman Juli menetap di level US$49,74 per barel, naik US$1,13 dari penutupan Selasa.

Dalam laporan mingguannya, Departemen Energi Amerika Serikat menyatakan bahwa persediaan minyak mentah komersial Amerika Serikat turun 4,2 juta barel dalam pekan yang berakhir 20 Mei, tapi masih di tingkat tertinggi secara historis pada 537,1 juta barel. Sementara produksi minyak mentah negara tersebut, menurut Badan Informasi Energi, menurun 24.000 barel menjadi 8,767 juta barel per hari pekan lalu.

“Kita mengalami pengurangan lumayan dalam minyak mentah utama, yang benar-benar membawa kita melalui reli hari ini,” kata Matt Smith dari ClipperData.

Pasar minyak dunia merosot dari di atas US$100 per barel dua tahun lalu menjadi sekitar US$27 per barel pada awal 2016 akibat bertahannya kelebihan pasokan global. Penguatan harga minyak terbantu kebakaran hutan berminggu-minggu di Kanada yang telah menahan produksi minyak dan kerusuhan yang mempengaruhi infrastruktur energi di Nigeria, eksportir minyak terbesar di Afrika.

Carsten Fritsch, analis Commerzbank, mengatakan penguatan kembali baru-baru ini membuat harga serpih minyak Amerika Utara menarik lagi, “yang bisa meredam penurunan produksi dalam beberapa bulan mendatang. Terlebih lagi, produksi minyak secara bertahap pulih kembali di daerah-daerah Kanada yang dilanda kebakaran hutan,” katanya dalam sebuah catatan penelitian.

Selain itu, seperti dilansir kantor berita Xinhua, pelemahan dolar AS terhadap mata uang lainnya juga ikut mendukung kenaikan harga minyak, membuat minyak mentah yang dihargakan dalam dolar lebih murah dan lebih menarik bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya.(AT/ANT)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)