Dunia Energi Logo Senin, 12 November 2018

Dr Risna Resnawaty: Program CSR Pertamina Berhasil Berdayakan Masyarakat

PT Pertamina (Persero), badan usaha milik negara di sektor energi terintegrasi, bersama anak usahanya dinilai sebagai salah satu BUMN yang memiliki komitmen tinggi dalam pengembangan masyarakat, salah satunya melalui program tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan. Setiap tahun Pertamina menganggarkan Rp 120 miliar-Rp130 miliar  dalam program CSR.

risna-resnawaty-pakar-csr-dari-unpad

DR Risna Resnawaty, Pakar CSR yang juga menjabat Ketua Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran, Bandung menilai Pertamina adalah salah satu BUMN  yang peduli dalam pengembangan masyarakat (community development) dan CSR. Beragam program  CSR dijalankan pada seluruh wilayah operasi perusahaan di Tanah Air. Saat ini, Pertamina menitikberatkan program CSR pada peningkatan kemandirian masyarakat dan pelaksanaan pembangunan berkelanjutan.

Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana implementasi program CSR Pertamina, wartawan Dunia-Energi Yurika Indah Prasetianti mewawancarai Risna Resnawaty, baru-baru ini. Berikut petikannya.

Bagaimana Anda melihat program CSR Pertamina?

Dengan melihat rekam jejak prestasi Pertamina yang meraih enam Proper Emas pada pengujung 2015 merupakan prestasi yang sangat luar biasa. Ini menegaskan bahwa Pertamina merupakan perusahaan milik bangsa Indonesia yang sangat perduli terhadap pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.  Prestasi yang diraih merupakan gambaran bahwa Pertamina telah benar-benar bekerja keras turut berkontribusi dalam pembangunan negeri ini.

Artinya, selama ini Pertamina sangat fokus dalam pengembangan CSR-nya?

Apabila dilihat dari pelaksanaan CSR oleh Pertamina dari waktu ke waktu, Pertamina saat ini benar-benar menitikberatkan program CSR pada peningkatan kemandirian masyarakat dan pelaksanaan pembangunan berkelanjutan. Program CSR Pertamina sudah tidak lagi didominasi oleh kegiatan bantuan (charity) yang notabene akan menyebabkan ketergantungan dari masyarakat terhadap perusahaan.

Apakah program CSR Pertamina bisa menjadi role model bagi perusahaan lain?

Program CSR yang telah dilakukan tampaknya lebih banyak pada sisi plusnya, antara lain dapat dijadikan sebagai model bagaimana sebuah program CSR dapat menjadi solusi bagi permasalahan di wilayah setempat. Sisi minus yang harus diantisipasi adalah apabila masyarakat terus berharap terhadap program-program CSR Pertamina tanpa berupaya untuk berdiri sendiri. Namun tampaknya hal ini tidak perlu dikhawatirkan selama perusahaan melibatkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan CSR sehingga wawasan masyarakat menjadi meningkat untuk mencari solusi dari permasalahan yang mereka hadapi di kemudian hari hingga program CSR perusahaan pada akhirnya hanya bersifat support saja.

Baca juga  Universitas Pertamina Target Terima hingga 1.050 Mahasiswa Baru

Indikatornya raihan Proper Emas?

Indikator dari penilaian Proper terkait dengan pelaksanaan CSR adalah bagaimana CSR yang dilakukan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. Tampaknya hal ini telah mampu dijawab oleh program CSR Pertamina. Sebagai contoh program yang dilakukan oleh Pertamina di Kamojang, Subang,  Balongan, Rewulu, Rantau, dan di Kalimantan Timur merupakan program CSR yang berkontribusi untuk mengurangi angka pengangguran, dan berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi berbasis aset lokal.

Apa sebenarnya kunci keberhasilan program CSR?

Kunci dari keberhasilan program CSR tersebut terletak pada program yang dilaksanakan berdasarkan pada kebutuhan masyarakat serta potensi yang dimiliki oleh masyarakat. Sebagai contoh program CSR yang dilakukan di Rewulu, di mana Pertamina berupaya mengembangkan usaha herbal didasari oleh kebiasaan masyarakat untuk memproduksi dan mengkonsumsi jamu, hingga akhirnya usaha jamu ini memiliki nilai ekonomi dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Begitupula di Subang, program CSR dititik beratkan pada permasalahan peningkatan produksi pertanian terkait dengan potensi pertanian yang ada.

naufal-penemu-pohon-listrik-di-langsa-binaan-pertamina-epNaufal, siswa madrasah tsanawiyah di Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam yang menemukan “pohon listrik” yang mendapat binaan program community development dan corporate social responsibility dari PT Pertamina EP Asset I Field Rantau, anak usaha PT Pertamina EP.

Tahun lalu Pertamina dapat  enam Proper emas. Apakah itu menjadi indikasi bahwa program Amdal dan CSR Pertamina sudah bagus?

Keberhasilan meraih  Proper emas adalah hal yang tidak mudah sebab indikator dari Proper menuntut kesungguhan dari perusahaan dalam pelaksanaan pengembangan masyarakat (aspek sosial) dan pembangunan berkelanjutan (aspek lingkungan).  Artinya jika telah mampu menjawab kedua aspek tersebut maka hal ini telah mengindikasikan program Amdal dan program CSR perusahaan telah berjalan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari capaian Pertamina dalam mengelola dan memelihara lingkungan  serta melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan yang berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebagai contoh TBBM Rewulu telah berhasil menjadi Center of Enviromental Excellence sejak 2014, serta mengembangkan BBM diesel ramah lingkungan. Contoh lain bisa dilihat dari keberhasilan PT Badak LNG Kalimantan Timur yang berhasil memodifikasi saluran gas buang sehingga mampu mengurangi terjadinya kebocoran gas buang sehingga mampu menghemat energi dalam proses eksplorasi maupun produksi.

Baca juga  IPA Goes to Campus, Ngobrol Tentang Energi di Universitas Sam Ratulangi

Soal kesejahteraan masyarakat di wilayah operasi?

Selain itu untuk keberhasilan perusahaan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat dilihat dari upaya-upaya peningkatkan perekonomian masyarakat melalui usaha ternak, pertanian, perkebunan, ekonomi kreatif, di mana dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing, sehingga program-program yang dilaksanakan terasa “sangat pas” untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Harapannya bukan hanya Pertamina, namun semua perusahaan yang bergerak di usaha hulu maupun hilir migas akan dapat melaksanakan program CSR yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan dapat memberikan dampak yang lebih baik secara sosial, ekonomi, maupun lingkungan.

Pertamina menganggarakan program CSR Rp120 miliar-Rp 130 miliar per tahun. Bagaimana Anda melihat besaran dana untuk program CSR?

Sebenarnya titik tekannya bukan pada berapa besar dana dikeluarkan, namun berapa besar efektifitas dari program yang dilaksanakan berhasil mendorong masyarakat menjadi lebih berdaya. Penelitian pada 2015 menyatakan bahwa banyak BUMN yang menggelontorkan dana CSR dengan jumlah yang sangat besar, namun belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini disebabkan program yang dilakukan masih berorientasi pada program yang bersifat bantuan, bukan yang bersifat meningkatkan pengetahuan, keterampilan maupun daya saing. Untuk mengukur sebuah program berhasil memberdayakan masyarakat juga ditentukan oleh berbagai macam indicator seperti pelibatan masyarakat dalam program mulai perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Hal ini juga didukung oleh seberapa serius perusahaan mendampingi masyarakat dalam upaya perubahan yang dilakukan. Apakah setelah dilaksanakan program perusahaan kemudian masih mendampingi sampai masyarakat benar-benar berdaya, atau setelah diberikan program perusahaan kemudian tidak lagi ikut lagi bertanggung jawab dalam proses yang berjalan, seperti program yang bersifat kiss and run. Jika program bersifat kiss and run, maka sebanyak apapun dana CSR dikeluarkan tujuan untuk memberdayakan masyarakat tidak akan tercapai.

Baca juga  Asa Nelayan di Tabung Elpiji

Bukankah anggaran program CSR dialokasikan minimal 5% dari biaya operasi perusahaan per tahun?

Selama ini tidak pernah ada ketentuan yang menyatakan harus berapa besar dana CSR digelontorkan oleh sebuah perusahaan. Besarnya dana CSR sangat ditentukan oleh kemampuan, kebijakan internal, “good will”, serta altruisme dari perusahaan. Secara umum kebiasaan di Indonesia seolah mematok besarnya dana CSR adalah sebesar 2,5%. Namun untuk BUMN yang harus melaksanakan Program Kemitraan (PK) dan Bina Lingkungan (BL), sekurangnya 5% keuntungan perusahaan disalurkan sebagai dana CSR (2,5% untuk PK dan 2,5% untuk BL). Semakin besar persentase dana CSR yang dikeluarkan tentu akan memberikan dampak yang positif bagi masyarakat. Tantangannya adalah seberapa besar dana tersebut digunakan untuk CSR yang benar-benar memberdayakan. Sebagai perusahaan yang peduli terhadap masyarakat dan mampu meraih proper emas, Pertamina dapat menjadi contoh baik bagi perusahaan milik Negara lainnya maupun bagi perusahaan swasta dalam pelaksanaan CSR yang berkelanjutan. (DR)

 

Komentar

  1. Ispriyambodo mengatakan:

    Sangat menarik program yang dijalankan Pertamina. Apakah ada kemungkinan bekerjasama dengan pertamina dalam bidang platform untuk petani? Jika ada dan bisa, bagaimana cara aplikasinya?
    Terimakasih

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: