Dunia Energi Logo Jumat, 24 November 2017

Relokasi Pembangkit Bisa Kurangi Defisit Pasokan Listrik

JAKARTA- PT PLN (Persero) akan merelokasi pembangkit ke beberapa daerah untuk mengurangi defisit pasokan listrik yang masih terus membayangi sebagian besar Indoensia sehingga terjadi pemadaman bergilir. Perusaan setrum ini berencana merelokasi tujuh pembangkit listrik ke Riau dalam dua tahap. Tahap pertama akan direlokalisasi 4 unit pembangkit terdiri dari 1 unit PLTG Gilitimur yang berlokasi di Madura dengan daya mampu normal 20 MW, 1 unit PLTG Sunyaragi di Cirebon dengan daya mampu 18 MW dan 2 Unit PLTG Cilacap dengan daya mampu 2 x 22 MW.
Sisanya sebanyak 3 unit pembangkit akan menyusul direlokasi. Pembangkit itu adalah 1 Unit PLTG Priok dengan daya mampu 20 MW yang berasal dari Madura dan 2 unit pembangkit combine cycle dengan daya mampu 2 x 20 MW yang berada di Perak-Surabaya
Doddy B Pangaribuan, GM PT PLN Wilayah Riau dan Kepri, menuturkan pada 2012 sudah terpasang pembangkit 2×17 MW di Balai Pungut, yang berasal dari bekas PLTG Sunyaragi dan PLTG Gili Timur. PLTG Gili Timur akhir-akhir ini menjadi sorotan terkait kasus korupsi yang menimpa ketua DPRD Bangkalan yang juga mantan Bupati Bangkalan Fuad Amin. PLTG Gili Timur direlokasi dengan alasan tidak adanya pasokan gas sehingga rencana semula untuk memenuhi kelistrikan wilayah Madura terpaksa dipindahkan ke Riau.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementrian ESDM, Jarman, saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR, Rabu, mengakui beberapa proyek yang sudah direncanakan tidak selesai sesuai target, khususnya pada proyek FTP (fast track program/program percepatan pembangunan pembangkit listrik tahap pertama 10 ribu MW. Dia mengungkapkan ada 19 proyek pembangkit listrik dari program FTP tahap I 10.000 MW yang terlambat masuk sehingga daya listrik yang ada tidak mampu memenuhi seluruh permintaan listrik. “Sementara pertumbuhan listrik bertambah 9% setiap tahunnya,” katanya.
Dari 19 proyek dalam program 10 ribu MW tahap I tersebut, sebagain besar akan rampung tahun ini dan tiga lainnya baru selesai pada 2016. Totalnya mencapai 2.542,5 MW atau 25,6% dari total 10 ribu MW. Dengan masih belum rampungnya pembangunan pembangkit lsitrik, maka target rasio elektrifikasi yang dicanangkan oleh PLN pada 2015 sebesar 85,9% atau naik 1,6% dari 2014 lalu, sepertinya masih menjadi pertanyaan.
Akibat tersendatanya pembangunan pembangkit listrik tersebut, banyak daerah yang harus menyiasati defisit listrik dengan sistem pemadaman bergilir. Wilayah Indonesia Timur, Nusa Tenggara dan juga Papua merupakan daerah yang memiliki rasio elektrifikasi rendah dan selalu mengalami pemadaman.
Selain daerah tersebut, wilayah seperti Riau yang selama ini dikenal sebagai lumbung energi juga mengalami defisit listrik. PLN di wilayah Riau dan kepulauan Riau, terus gencar mencari tambahan pasokan listrik untuk menambal kekurangan tersebut. Padahal, sejak 2011, sudah ada relokasi 7 unit pembangkit yang berasal dari pulau Jawa ke Riau, dengan total tambahan daya sebesar 142 MW, untuk memperkuat sistem kelistrikan di Bumi Lancang Kuning tersebut.

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)