Dunia Energi Logo Kamis, 21 September 2017

Proyek Pembangkit 35 Ribu MW akan Lahirkan Perputaran Uang US$72,94 Miliar

JAKARTA – Kepastian penyediaan program penyediaan listrik dinilai akan mendorong terciptanya efek berganda yang positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Pandu Syahrir, Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), memperkirakan adanya penyerapan tenaga kerja sebanyak 3.650.000 orang dalam proses penyelesaian program 35.000 megawatt (MW) dalam lima tahun ke depan.

Pandu menuturkan, efek berganda ini akan bertambah dengan adanya perputaran roda ekonomi yang akan terjadi setelah program 35ribu MW selesai.”Akan terjadi perputaran uang sebesar US$ 72,94 miliar atau lebih dari Rp 960 triliun. Pertumbuhan di daerah-daerah juga akan terbantu mengingat lokasi program 35ribu MW tersebar hingga ke pelosok-pelosok (remote area),” papar Pandu.

Menurut Pandu, program kelistrikan nasional 35ribu MW merupakan elemen penting dalam pembangunan ekonomi nasional yang perlu didukung seluruh komponen bangsa. Dia menjelaskan, perkembangan pembangunan bangsa yang semakin pesat ternyata belum diimbangi oleh pasokan energi yang cukup. Keterbatasan atau kurangnya pasokan energi berpotensi mendorong Indonesia di ambang krisis energi dan terganggunya rencana pembangunan nasional.

“Indonesia bukan hanya membutuhkan ketersediaan listrik yang murah, namun juga listrik yang dapat diandalkan atau kontinuitas sehingga pelanggan tetap terjaga. Listrik yang terjangkau dan andal akan menggerak perekonomian nasional,” ujar Pandu.

Menurut Pandu, pemanfaatan batubara untuk kebutuhan energi dalam negeri, khususnya untuk sumber energi primer dan efisien dalam membangun pembangkit listrik (PLTU).Batubara Indonesia, kata Pandu, merupakan batubara thermal ramah lingkungan. Penggunaan teknologi baru akan diterapkan pada proyek pembangkit listrik guna meminimalkan dampak lingkungan.

“Saat ini telah terdapat teknologi PLTU yang dapat mengurangi dampak emisi CO2 yang cukup signifikan dan hemat bahan bakar, yaitu teknologi superkritikal atau ultra-superkritikal yang saat ini sudah banyak digunakan di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Cina,” ujar Pandu.

Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerjasama dengan pengajar Departmen Teknik Mesin Universitas Indonesia, pembangkit listrik dengan teknologi superkritikal atau ultra superkritikal dapat meningkatkan efisiensi sehingga biaya bahan bakar berkurang dan emisi menurun.(RA)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)