Dunia Energi Logo Jumat, 24 November 2017

PLTU Pomalaa Butuh 300.000 Ton Batubara Low Rank Per Tahun

Lowrank Coal

Tumpukan batubara low rank.

JAKARTA – Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 2×30 Megawatt (MW) yang dibangun PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan Sumitomo Corporation di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, setiap tahun akan membutuhkan 300.000 ton batubara low rank (kalori rendah) 4.200 Kcal/kg (GAR).

Corporate Secretary Antam, Ir. Tedy Badrujaman, MM mengatakan, pembangunan PLTU itu sebagai bagian dari proyek Modernisasi dan Optimasi Pabrik Feronikel (FeNi) Pomalaa.

PLTU batubara dengan tipe Circulating Fluidised Bed (CFB) ini memiliki kapasitas 2 X 30 MW dengan nilai Engineering, Procurement, and Construction (EPC) US$ 145 juta, dan akan dibangun oleh Sumitomo Corporation sebagai kontraktor utama.

“Setelah PLTU batubara ini beroperasi, biaya energi feronikel Antam diharapkan dapat turun sekitar 15%-20%,” jelas Tedy usai mengumumkan penandatanganan kontrak EPC PLTU Pomalaa di Jakarta, Senin, 17 Desember 2012.

Ia menambahkan, pembangunan PLTU batubara Pomalaa ditujukan untuk memenuhi kebutuhan listrik fasilitas pendukung pabrik FeNi I, II dan III. “Antam saat ini tengah melakukan modernisasi dan optimasi pabrik FeNi I di Pomalaa yang sudah beroperasi sejak tahun 1976,” ujarnya.

Disebutkan pula, proyek modernisasi dan optimasi pabrik feronikel juga mencakup pembangunan fasilitas pelabuhan yang lebih besar, dan fasilitas belt conveyor untuk transportasi umpan bijih nikel ke pabrik. Karena itulah, suplai listrik yang andal dari PLTU sangat dibutuhkan.

Tedy menerangkan, pembangunan PLTU Pomalaa memerlukan waktu 25 bulan untuk Unit-1, dan 28 bulan untuk Unit-2. PLTU itu membutuhkan sekitar 300.000 ton batubara kalori rendah setiap tahun dengan nilai kalori 4.200 kcal/kg (GAR).

Ia menuturkan, selain modernisasi pabrik feronikel, proyek-proyek pertumbuhan Antam yang berorientasi hilir juga masih berjalan on track. Salah satunya pembangunan pabrik Chemical Grade Alumina (CGA) di Tayan, Kalimantan Barat.

Menurut Tedy, sampai Oktober 2012, pengerjaan konstruksi pabrik pengolahan bauksit menjadi produk hilir alumina itu, telah mencapai 81,5%. Proyek CGA Tayan pun diharapkan sudah memasuki tahap commissioning pada akhir tahun 2013.

(Abraham Lagaligo / abrahamlagaligo@gmail.com)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)