Dunia Energi Logo Kamis, 23 November 2017

PLN Kejar Penggunaan TKDN 40% pada Proyek Pembangkit

JAKARTA – Pemerintah meminta PT PLN (Persero) meningkatkan penggunaan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) di setiap pembangkit listrik. Untuk itu akan dibuat roadmap yang secara khusus menyusun penyediaan komponen utama pembangunan pembangkit.

Nicke Widyawati, Direktur Perencanaan Korporat PLN, mengatakan untuk beberapa alat atau peralatan tertentu PLN masih membeli dari luar negeri. Hal ini dilakukan untuk memenuhi standarisasi yang dikejar di setiap pembangkit.

“Peralatan seperti turbin, boiler belum diproduksi di dalam negeri. Ini yang harus kita buat tahapannya supaya betul-betul siap karena potensinya besar,” kata Nicke di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Senin (19/6).

PLN masuk ke dalam tim percepatan peningkatan TKDN bersama BPPT, Kementerian Perindustrian, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan dikoordinasikan Kemenko Maritim.

Menurut Nicke, selama ini hampir 50% komponen peralatan didatangkan dari luar negeri. Bahkan untuk megaproyek 35 ribu megawatt (MW) sebagian juga belum menggunakan TKDN.

“Dari data terakhir kalau dilihat per negara, dari 35 ribu, 47,5% berasal dari Jepang, Eropa, China,” kata dia.

Untuk saat ini tingkat TKDN yang ada dalam fasiltias pembangkit listrik PLN rata-rata baru mencapai 32%. Padahal dari peraturan yang ada minimal TKDN sebesar 40%.

Nicke mengatakan saat ini pengaplikasian penggunaan produk dalam negeri baru bisa diimplementasikan di pembangkit listrik berkapasitas kecil. Untuk itu penyusunan roadmap bertujuan agar produk dalam negeri juga bisa diaplikasikan di pembangkit berkapasitas besar.

“Kita perlu tingkatkan terus penggunaan produk dalam negeri ke pembangkit yang super critical,” kata Nicke.

Berdasarkan hasil pembahasan dengan pemerintah, peningkatan TKDN diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Pasalnya butuh persiapan panjang dari sisi industri. Untuk itu pemerintah menyusun regulasi yang mengatur, sehingga pelaksanaannya bisa terawasi dan diimplementasikan.

“Kan perlu waktu lama. tidak bisa setahun dua tahun. Nanti tim ini membuat roadmap, PP apa yang diperlukan,” tandas Nicke.

Tambah Daya

Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1438 H, PLN memberikan potongan biaya penyambungan tambah daya listrik. Bahkan, bagi rumah ibadah, potongan yang diberikan sebesar 100% atau bebas biaya penyambungan. Hal ini bertujuan untuk memberikan kenyaman bagi umat saat beribadah, khususnya di bulan Ramadhan.

Untuk seluruh konsumen PLN juga memperoleh kesempatan untuk menambah daya listrik hingga 197 kVA dengan hanya membayar 50% biaya penyambungan untuk penambahan daya. Program ini berlaku hingga 31 Juli 2017.

“Melalui Promo Gemerlap Lebaran 2017, kami ingin memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mencukupi kebutuhan daya listriknya dengan biaya yang murah,” kata I Made Suprateka, Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN, Senin (19/6).

Selain lebih murah, pelanggan bisa mendapatkan tambahan daya listrik dengan cepat karena waktu penambahan daya tidak lebih dari 24 jam.

“Maksimal satu hari menyala, jika tidak memerlukan tambahan jaringan listrik yang baru,” kata Made.(RI/RA)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)