Dunia Energi Logo Kamis, 19 Oktober 2017

PLN Bangun Jaringan Transmisi untuk Desa Terujung dan Tertua di Liran, Maluku

JAKARTA– PT PLN (Persero), badan usaha milik negara di sektor ketenagalistrikan, membangun infrastruktur kelistrikan di wilayah terujung, salah satunya di Pulau Liran, satu di antara empat pulau di Kecamatan Wetar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku dengan total penduduk 1.118 jiwa. Total biaya pembangunan infrastruktur di pulau terpencil di Indonesia ini lebih dari Rp12 miliar.

PLN memberikan listrik secara gratis bagi 130 Kepala Keluarga di Pulau Liran. Dari 236 KK yang ada di Liran saat ini, 211 warga telah dilayani listrik oleh PLN yakni Desa Ustututun dan Desa Manoha. Sedangkan 25 KK yang berada di daerah dusun Uspisera saat ini dalam pengembangan Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 4 kilometer.

“Kami berharap pembangunan JTM itu bisa selesai pada November 2017,” ujar Muhamad Ali, Direktur Human Capital Management PLN.

Ali mengatakan dengan adanya pasokan listrik yang baik akan membantu warga untuk dapat membangun dan meningkatkan taraf hidup yang lebih baik, dengan listrik yg handal, anak-anak bisa belajar serta perekonomian mulai menggeliat.

“Seluruh pasokan listrik saat ini berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel(PLTD) dengan daya terpasang 240 kilowatt, dan rata-rata biaya pokok produksi (BPP) di pulau tersebut sebesar Rp11.182/ kWh,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Dunia-Energi, Kamis (21/9).

Dengan BPP yang tinggi, lanjut Ali, PLN tetap menjual per kWh untuk warga Liran dengan harga subsidi, yakni 650 Rp/kWh. Hal ini sesuai dengan amanah UU Ketenagalistrikan dimana PLN sebagai penyedia listrik negara wajib memberikan pelayanan listrik yang terjangkau untuk masyarakat. “Untuk itulah subsidi silang dilakukan salah satunya berasal dari kebijakan subsidi listrik tepat sasaran,” katanya.

Kehadiran PLN disambut positif warga Pulau Liran. Moses, warga Liran, mengaku sejak masuknya listrik kehidupan perekonomian mereka lebih terbantu karena warga tidak lagi terbebani biaya bahan bakar untuk menyalakan listrik.

“Dulu sebelum ada listrik, saya harus menggunakan tiga pelita, dalam sebulan kami bisa menghabiskan Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Dengan masuknya listrik kini kami hanya membayar Rp30ribu-Rp60 ribu saja perbulan,” katanya. (RA/DR)

 

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)