SURABAYA-PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO), anak usaha PT Pertamina (Persero) memasok gas kepada PT Perusahaan Gas (Persero) Tbk (PGAS) atau PGN sebanyak 0,6 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Gas dari PHE WMO akan dialokasikan oleh PGN untuk memenuhi gas bagi 24.000 ribu unit sambungan jaringan gas (jargas) rumah tangga di Kota Surabaya, Jawa Timur.

“Total pipa yang dibangun untuk mengalirkan gas bumi ke 24.000 rumah tangga di Surabaya mencapai lebih dari 196 kilometer,” ujar Jobi Triananda Hasjim, Direktur Utama PGN, di Surabaya, Minggu (7/5).

Menurut Jobi, pemakaian gas rumah tangga selain murah juga aman, bersih, terukur, dan bayarnya belakangan.”Untuk Surabaya ini, kami bangun selama 10 bulan dari mulai engineering sampai commissioning,” katanya.

Dia memohon maaf kepada warga Surabaya karena selama proses pembangunan harus membongkar jalan dan taman, yang kini sudah diperbaiki kembali. Jobi menambahkan, sampai 2015 PGN sudah mengoperasikan 43.000 sambungan gas untuk rumah tangga di 11 kota dengan biaya APBN. Sementara dengan dana sendiri, PGN membangun sekitar 100 ribu sambungan. “Kami siap kalau diberi penugasan lagi,” katanya.

Ignasius Jonan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan proyek 24 ribu jargas di Kota Surabaya didanai oleh APBN 2016 senilai Rp 221,9 miliar. Pemanfaatan gas ini menghemat pengeluaran biaya satu rumah tangga sekitar Rp20 ribu per bulan.

“Sesuai kebijakan pemerintah, gas diprioritaskan untuk listrik dan rumah tangga sederhana,” katanya saat peresmian jaringan gas rumah tangga di Rumah Susun Penjaringan Sari, Rungkut, Surabaya, Minggu (7/5kemarin, ) seperti dikutip Antara. Hadir dalam persemian tersebut antara lain dihadiri oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Wakil Ketua Komisi VII DPR Syaikhul Islam Ali, dan Dirut PGN Jobi Triananda Hasjim.

Menurut Jonan, pemerintah akan terus mendorong dan mempercepat program konversi elpiji ke gas bumi. Setiap tahunnya, pemerintah mengeluarkan dana APBN untuk menambah jaringan gas bumi di berbagai daerah.

Pembangunan jaringan gas tersebut ditujukan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah agar mereka dapat menikmati gas bersih dan aman setiap saat dengan harga yang relatif murah. “Dana APBN harus digunakan untuk membangun sesuatu yang memang dibutuhkan oleh masyarakat paling bawah,” kata Jonan.

Rismaharini mengapresiasi upaya Kementerian ESDM dan PGN membangun 24.000 sambungan rumah tangga di Surabaya. “Warga sangat terbantu dengan adanya gas ini, karena bisa menghemat pengeluaran, selain juga praktis, ada setiap saat, bersih, dan aman,” katanya.

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja menjelaskan pemerintah sudah membangun 186 ribu sambungan jarigan gas untuk rumah tangga di 14 provinsi selama periode 2009-2016 melalui penugasan kepada dua BUMN, PT PGN (Persero) Tbk dan PT Pertamina (Persero).

Tahun 2016, pemerintah membangun 89.000 ribu sambungan rumah tangga di enam kota, termasuk 24.000  sambungan di Surabaya.

Selain hemat bagi pengguna, menurut dia, pemasangan sambungan gas rumah tangga juga mengurangi impor elpiji 20 ribu ton per tahun secara nasional dan 2.600 ton per tahun khusus untuk Surabaya. “Penghematan subsidi pemerintah sebesar Rp141 miliar per tahun,” kata Wirat.

Pada 2017, pemerintah akan membangun lagi 59 ribu sambungan gas untuk rumah tangga di 16 wilayah. “Untuk satu sambungan perlu investasi sekitar Rp10 juta,” katanya. (dr)