Dunia Energi Logo Rabu, 22 November 2017

Perusahaan China dan Kuwait Calon Kuat Mitra Pertamina Garap Kilang Bontang

JAKARTA – Keinginan PT Pertamina (Persero) untuk hanya memiliki saham minoritas dalam proyek pembangunan Grass Root Refinery (GRR) Bontang mendapat dukungan dari pemerintah. Arcandra Tahar, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan porsi saham Pertamina yang kecil pada proyek kilang Bontang untuk tetap menjaga keuangan perusahaan tetap terkendali. Pasalnya, Pertamina juga tengah membangun satu kilang baru, yakni kilang Tuban dan melakukan revitalisasi kilang.

Tiga dari empat yang akan direvitalisasi adalah kilang Cilacap, Balongan dan Balikpapan. Kilang lainnya adalah kilang Dumai.

Menurut Arcandra, salah satu syarat yang diajukan Pertamina dalam pemilihan mitra sesuai dengan rekomendasi pemerintah adalah kesediaan menyiapkan dana lebih besar untuk melakukan pembangunan.

“Salah satu kriteria kalau bisa, dia (calon partner) ambil porsi lebih besar, Pertamina kecil saja. Kita harus lihat kemampuan Pertamina juga, jangan sampai nanti governance keuangan Pertamina jadi terganggu,” kata Arcandra di Kementerian ESDM, Senin (15/5).

Hingga saat ini Pertamina belum mengumumkan siapa yang terpilih dari proses project expose kilang Bontang yang dilakukan Februari silam. Padahal Pertamina menjanjikan penetapan mitra dilakukan pada April.

Arcandra mengatakan dua perusahaan asal China dan Kuwait menjadi calon terkuat untuk menjadi mitra Pertamina dalam menggarap proyek kilang Bontang. Kedua perusahaan paling serius menggarap proyek tersebut, yang dapat dilihat dari sisi kelengkapan administrasi yang tidak dipenuhi perusahaan lainnya.

“Open semua boleh ikut yang ajukan penawaran, dua (China dan Kuwait) itu yang kompetitif. Dan yang comply lainnya ikut, tapi ternyata tidak masukin beberapa persyaratan,” ungkap dia.

Menurut Arcandra, walaupun memiliki porsi saham yang sedikit Pertamina tetap akan melakukan kontrol pengelolaan kilang. Apalagi nantinya produksi dari kilang Bontang juga diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan akan bahan bakar yang diprediksi akan terus alami peningkatan.

“Perkiraan kita 2023 kebutuhan kita sekitar dua jutaan kalau semua RDMP dan New Grass Root selesai kita punya 2 jutaan berdasarkan asumsi kita berapa pertumbuhan ekonomi dan petumbuhan gasoline,” tandas Arcandra.(RI)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)