Field Manager (FM) Tanjung,  Her Agung Ugiantoro saaat memeriksa fasilitas produksi di lapangan itu, awal November 2013.

Field Manager (FM) Tanjung, Her Agung Ugiantoro saaat memeriksa fasilitas produksi di lapangan itu, awal November 2013.

Darmansyah tak pernah  jauh dari  Lapangan Tanjung, milik PT Pertamina EP.  Hampir separuh hidupnya dijalani dengan  jadi  pekarya –sebutan untuk tenaga outsourching di perusahaan Pertamina–,  baik holding maupun anak perusahaan.

Kesempatan untuk jadi karyawan bukan tak diberikan. “Berkali-kali  ikut tes, tak pernah berhasil,” ujarnya. Ia pun menjalani status pekarya itu dengan  sepenuh hati. Barangkali karena itulah, ia bisa melakoninya  sampai  usia pensiun 55 tahun. Beragam pekerjaaan sudah dilakoninya, baik teknik maupun  non teknik.

Kini, saat usianya 57 tahun,  ia pun tak pergi.  Pertamina menyewanya sebagai tenaga  honorer  untuk mengurus perkebunan hidroponik.  Gajinya Rp 2,1 juta per bulan, jauh di atas UMR (Upah Minimum Regional) daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) yang hanya Rp 1,6 juta. “Hidup saya  dan keluarga  sepenuhnya dari minyak  di Lapangan Tanjung,” ujarnya kepada Dunia Energi awal November lalu.

Darmansjah tak sendirian. Jika dihitung sejak Lapangan Tanjung berdiri pada era Belanda pada 1989, tak terhitung banyaknya yang  menggantungkan hidup dari minyak Tanjung.

Pertanyaannya sampai kapan  minyak Tanjung bisa bertahan? Pernah booming  di era 60-an, saat itu produksi sempat mencapai  90.000 barel per hari, kemudian  berangsur turun sampai akhirnya pada 1990-an produksi hanya tinggal 3.000 barel per hari.

Untuk menaikkan produksi, Pertamina  yang saat itu teknologinya masih tertatih, mengundang perusahaaan kaliber  internasional yang sudah terbiasa melakukan  pengurasan minyak  pada tempat-tempat sulit yang tak bisa lagi dijangkau dengan metode konvensional.

Nama perusahaan itu adalah Talisman Energy yang  sudah menguasai teknologi EOR  (Enhanced Oil Recovery) dengan metode injeksi air (water flood). Jadilah Tanjung sebagai lapangan pertama di lingkungan Pertamina yang menerapkan teknologi  EOR.

Penerapan EOR  terbukti bisa menaikkan produksi ke level 5.000-an barel per hari.  Tapi setelah itu, angka  seperti  ogah beranjak. Seperti   lapangan lain yang sudah sepuh. Lapangan Tanjung pun   mengalami penurunan alamiah sekitar 20 persen. 

Field Manager (FM) Tanjung,  Heragung Ujiantoro dan anak buahnya, berupaya menutupi penurunan itu  dengan beragam cara. Mulai dari pengeboran sampai maintenance sumur. “Tapi angkanya sulit naik dari  4.000-an,” ujarnya. Produksi Tanjung per November 2013 adalah 4.263 barrel oil per day (BOPD).

Apakah artinya tak ada harapan lagi bagi Tanjung? Tunggu dulu. Peluang untuk menaikkan produksi  terbuka lebar. “Cadangan  Lapangan Tanjung  baru terambil sekitar 21%,” ujar Heragung.  Cuma yang tersisa itu  tersembunyi di batu-batu, tak bisa lagi diangkat dengan pengambilan konvensional,  ataupun waterflood yang bisa dibilang sebagai teknologi paling sederhana dari EOR.

“Kita sekarang  sedang  ujicoba teknologi EOR yang lain, yaitu surfaktan,”  Heragung menambahkan. Ia berharap  akan ada tambahan sekitar 5.000 BOPD jika surfaktan  sudah full scale di Lapangan Tanjung.  Catatannya,  tentu saja jika ujicoba  sekarang berhasil.

Menjajal Surfaktan Lokal

Penginjeksian dengan surfaktan bukan barang baru dalam  industri migas di Indonesia. Beberapa KKKS sudah melakukannya. Cuma , biasanya yang dipakai adalah produk impor.  Tak pernah dipakai produk dalam negeri. Kenyataaanya sampai sekarang,  produk surfaktan memang masih  dikuasai asing. Belum  ada orang Indonesia yang membuat surfaktan untuk keperluan migas

Yang disusupkan ke sumur di Lapangan Tanjung  adalah produk lokal, buatan  Institut  Pertanian Bogor (IPB). Jika ujicoba “surfaktan  made in Indonesia” ini berhasil, akan semakin membuka  mata dunia bahwa SDM Indonesia dalam industri migas tak bisa dipandang remeh.

Lapangan Tanjung sejak dialih kelola Pertamina EP dari  Talisman Energy  pada 2004, sepenuhnya dioperasikan  tenaga Indonesia, tak satupun bule.  Kebanggaannya tentunya akan berlipat-lipat jika Tanjung bisa meningkatkan produksi  karena  tenaga kerja dan surfaktan asli Indonesia.

Bagi Tanjung, tentunya bisa mengulang sejarah, Jika sebelumnya sudah mencatatkan sebagai  lapangan Pertamina EP yang pertama kali menerapkan teknologi waterflood. Sekarang , menorehkan prestasi sebagai lapangan pertama yang berhasil memakai surfaktan, dalam negeri pula. 

Tentu tak sekedar  Pertamina EP yang beroleh manfaat, tapi negara pun akan diuntungkan. Dengan menggunakan  surfaktan dalam negeri  jutaaan dolar bisa dihemat.   Sebagai komponen operasi, pemakaian  surfaktan ini diganti oleh negara, melalui mekanisme  cost recovery. 

Guru Besar IPB, Prof DR Erliza Hambali menyebutkan, harga surfaktan buatannya  jauh lebih murah dibandingkan  produk dari luar. Harga produk impor  sekarang ini  sekitar US$ 19/kilo dengan pemakian 0,3 persen,  dan  US$ 5,7/kilo dengan pemakian 2,5 persen.

“Nah surfaktan kita,  karena teknologinya kita yang kembangkan sendiri, sintetisnya kita sendiri, harganya 8 dolar/ kilo dengan pemakian 0,3 persen,” ujar Erliza  yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meneliti surfaktan di kantornya di Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi IPB. Pemakaian 0,3 persen itu maksudnya  setiap seribu liter air, surfaktan yang diaduk sekitar 3 liter.

Ia berharap ujicoba di Lapangan Tanjung berhasil.  Keberhasilan itu akan menjadi pembuktian bahwa putra-putri Indonesia, mampu melakukan seperti yang dilakukan  pihak luar, asalkan diberikan kesempatan, hatta untuk bidang migas yang kerap disebut sebagai industri padat modal dan high tech.

Nilai Tambah dari Sawit

Ia memulai penelitian surfaktan berbasis hasil pertanian sejak 1998. Yang mendasari dirinya bersama rekan-rekannya  melakukan penelitian karena surfaktan banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Surfaktan banyak dipakai untuk deterjen, shampoo, sabun, produk kesehatan hingga makanan. Tetapi yang terjadi selama ini, bahan baku surfaktan diimpor dari beberapa negara seperti Amerika dan China. Bahan dasar yang dipakaipun berasal dari petrokimia, hasil sintetis minyak bumi.

Padahal, lanjut perempuan kelahiran Padang, 21 Agustus 1962 ini,banyak potensi pertanian di Indonesia yang bisa dimanfaatkan. Mulai minyak sawit, minyak kelapa, serta beberapa produk pertanian lainnya. Akhirnya, pilihan jatuh pada minyak kelapa sawit. Alasannya jelas, Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di dunia, dengan produksi tahunan sekitar 20 juta ton. Sementara konsumsi dalam negeri hanya 5 juta ton, selebihnya diekspor. “Kami ingin memberikan nilai tambah dari produk sawit kita yang sangat banyak itu,” demikian terangnya.

Penelitian surfaktan IPB, cerita Erliza, awalnya hanya fokus kepada produk berbasis  pertanian,bukan petroleum, seperti surfaktan  Amerika atau China, meski dari sisi teknologi ada kemiripan. Dalam banyak literatur disebutkan  surfaktan merupakan molekul yang memiliki gugus polar yang suka air (hidrofilik) dan gugus non polar yang suka minyak (lipofilik) sekaligus, sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari minyak dan air. Dengan sifat surfaktan seperi itu, akhirnya banyak yang mengadopsinya untuk membilas minyak yang tersembunyi di bebatuan.

Meruntuhkan Hegemoni Asing

Erliza  dan timnya  mulai meneliti surfaktan untuk minyak pada 2009, setelah mendapat sokongan dari Pertamina EP. Dalam skala laboratorium, sebenarnya sudah berhasil.  Untuk didizinkan ujicoba di lapangan, BP MIgas yang sekarang berubah menjadi  SKK Migas mensyaratkan sejumlah persyaratan teknis yang ketat, antara lain IFT harus 10¯³(Sepuluh pangkat minus 3), temperature reservoir tahan untuk 3 bulan test, phase formnya kasa 3, kemudian absorpsinya  lebih kecil dari 400 migrogram/volt dan Incremental recovery oilnya antara 15 sampai 20 persen.

Syarat yang diajukan lembaga yang bertanggung jawab pada pengelolaan dan pengusaahan hulu migas  tersebut sebenarnya  cukup berat. Beberapa perusahaan yang sudah melakukan  ujicoba sampai 7 tahun,  banyak yang belum berhasil menemukan   formulasi surfaktan yang sesuai. Tapi tim Erliza  yang memulai  penelitian serius pada 2009  tak sampai lima tahun berhasil menemukan formula seperti yang  disyaratkan tersebut.

Untuk  IFT,  sudah  10¯³, absorpsi-nya hanya 250 mikrogram/gram volt, inceremental recovery oil-nya 18.8 persen. Setelah dinyatakan bagus di lab, kemudian disertifikasi lagi oleh Lemigas dengan mengajukan pengujian ulang. Hasilnya, Lemigas mengeluarkan sertifikasi terhadap surfaktan IPB sebagai produk yang memenuhi standar yang dipersyaratkan. Akhirnya, mulai Desember 2012, diujicobakan di Lapangan Tanjung selama setahun.

Dalam beberapa bulan  ke depan,  semua menunggu  dengan harap-harap cemas : Apakah pertaruhan  anak negeri di lapangan Tanjung itu bisa meruntuhkan  hegemoni produk asing ? Atau sebaliknya, kita harus menerima  kenyataan bahwa produk dalam negri  untuk kesekian  kali susah menembus  industri migas. 

Kalau berhasil,  Tanjung akan kembali berkilau dan mimpi Darmansyah bisa menjadi kenyataan. “Saya ingin keturunan saya bisa bekerja di PEP Tanjung,” ujarnya.  Itu hanya bisa terwujud jika Lapangan Tanjung masih berproduksi.

(Hidayat Tantan / tsuma25@yahoo.com)