Dunia Energi Logo Minggu, 17 Desember 2017

Pertamina akan Jaga Produksi Blok Mahakam Tidak Turun

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) mulai menyiapkan skema komersialisasi Blok Mahakam melalui PT Pertamina Mahakam Indonesia yang akan segera mengambil alih pengelolaan dari PT Total E&P Indonesie yang kontraknya berakhir pada 31 Desember 2017.

Wianda Pusponegoro, Vice President Corporate Communication Pertamina, mengatakan saat ini proses transfer Blok Mahakam masih on schedule dan Pertamina siap untuk mengejar target agar tidak ada penurunan produksi setelah dialihkelolakan.

“Kita proaktif dengan arahan pemerintah dengan alih kelola Blok Mahakam. Kita juga berharap tidak ada penurunan produksi ke depannya,” kata Wianda di Jakarta, Rabu (11/5).

Menurut Wianda, tim persiapan alih kelola Blok Mahalam juga terus berkoordinasi agar proses transfer berjalan dengam baik. Di tim tersebut ada unsur pemerintah, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas), Pertamina, serta operator existing yang terus berkoordinasi agar produksi Blok Mahakam tidak menurun saat peralihan operator.

Produksi gas dari Blok Mahakam pada kuartal I 2016 mencapai 1.750 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) atau melampaui target 1.500 MMSCFD maupun realisasi pada 2015 sebesar 1.680 MMSCFD.  Namun, produksi minyak dan kondensat menurun dibandingkan 2015, yang mencapai masing-masing 1,68 bcfd dan 68 ribu barel kondensat per hari.

Kontrak bagi hasil Blok Mahakam ditandatangani pada 1967, kemudian diperpanjang pada 1997 untuk jangka waktu 20 tahun hingga 2017. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan pada 1967 menemukan cadangan minyak dan gas bumi di Blok Mahakam pada 1972 dalam jumlah yang cukup besar. Cadangan (gabungan cadangan terbukti dan cadangan potensialatau dikenal dengan istilah 2P) awal yang ditemukan saat itu sebesar 1,68 miliar barel minyak dan gas bumi sebesar 21,2 triliun kaki kubik (TCF).

Dari penemuan itu, Blok Mahakam mulai berproduksikan dari Lapangan Bekapai pada 1974. Produksi dan pengurasan secara besar-besaran cadangan tersebut di masa lalu membuat Indonesia menjadi eksportir LNG terbesar di dunia pada 1980-2000.

Kini, setelah pengurasan selama 40 tahun, maka sisa cadangan 2P minyak saat ini sebesar 185 juta barel dan cadangan 2P gas sebesar 5,7 TCF.

Data SKK Migas menunjukkan pada akhir maka kontrak tahun 2017, Blok Mahakam diperkirakan masih menyisakan cadangan 2P minyak sebesar 131 jutabarel dan cadangan 2P gas sebanyak 3,8 TCF pada tahun 2017. Dari jumlah tersebut diperkirakan sisa cadangan terbukti (P1) gas kurang dari 2 TCF.(RI)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)