Dunia Energi Logo Jumat, 24 November 2017

Percepat Proyek Masela, Pemerintah Datangi Markas Inpex

JAKARTA – Setelah menyetujui permintaan Inpex Corporation untuk melakukan dua fase proses Pre Front End Engineering Design (FEED) untuk menentukan kapasitas produksi dan letak wilayah pengolahan gas Blok Masela, kini pemerintah menyambangi markas perusahaan minyak dan gas asal Jepang tersebut.

Arcandra Tahar, Wakil Menteri Energi dan Sumber DAya Mineral (ESDM), mengatakan salah satu agenda Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam kunjungan ke Jepang adalah membicarakan proyek Masela dengan pimpinan tertinggi Inpex.
Pemerintah membuka diri untuk berbagai masukan dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dalam percepatan proyek migas, meski tetap harus melalui kajian yang disepakati.

“Pemerintah membuka diri untuk percepatan prosesnya, tapi kita juga berhak evaluasi apakah proses yang diajukan make sense atau tidak. Setiap proses itu kita evaluasi sesuai standar internasional,” ujar Arcandra, Senin (15/5).

Pemerintah melalui Kementerian ESDM terus mendorong percepatan pengelolaan Blok Masela karena kebutuhan gas yang terus meningkat sehingga diharapkan tambahan produksi gas dari blok gas Abadi itu tidak kembali molor.
Menteri ESDM memimpin langsung rombongan yang didampingi Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) berkunjung ke Jepang guna mendapat informasi dan mendengar langsung masukan dari para investor migas di Jepang.

“Kita akan semaksimal mungkin membantu dan mendorong agar investasi mereka berlangsung dengan baik tanpa kendala berarti,” kata Jonan dalam keterangan resminya.

Proses proyek Masela sampai saat ini masih terhenti sementara dalam tahapan Pre FEED.

Menurut Arcandra, Inpex seharusnya tidak terlalu lama dalam melakukan Pre FEED karena scope of work-nya sudah jelas dan tidak perlu memakan biaya yang terlalu besar. Untuk mendapatkan hasil maksimal dengan waktu relatif singkat serta tidak memakan biaya yang besar Inpex disarankan memilih mana saja yang akan diajukan dalam kajian Pre FEED.

Pada dasarnya hanya dua poin yang yang di Pre FEED, yakni kapasitas produksi 9,5 MTPA LNG ditambah 150 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) yang disalurkan menjadi gas pipa dan 7,5 MTPA gas LNG ditambah 474 MMSCFD gas pipa. Serta letak wilayah antara Yamdena dan Pulau Aru.

“Pre FEED kita harus pahami apa saja scope of work Pre FEED, jangan sampai scope of work FEES dimasukan dalam Pre FEED,” kata Arcandra.(RI)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)