Dunia Energi Logo Sabtu, 18 November 2017

Pengeboran Eksplorasi Migas Indonesia 2014 Hanya Capai 50%

Jakarta – Selama tahun 2014, realisasi program pengeboran eksplorasi sebesar 51 persen. Dari 132 sumur yang direncanakan, sebanyak 67 sumur telah selesai dibor. Dari jumlah tersebut, berdasarkan data di SKK MIgas , 52 sumur merupakan migas konvensional, sisanya 15 adalah sumur non konvensional. Beberapa kendala yang dihadapi antara lain proses pengadaan, jadwal rig, izin pembebasan lahan dan persiapan lokasi.

Untuk survei seismik, geologi, dan geofisika, dari rencana sebanyak 49 kegiatan, terealisasi sebanyak 31 kegiatan atau 63 persen. Tantangan yang dihadapi mulai dari melewati taman laut nasional, perizinan daerah, hingga studi internal. Sementara, pengeboran sumur pengembangan dari rencana 1.324 sumur dalam revisi program dan anggaran (work program and budget/WP&B), terealisasi 969 sumur atau 73 persen. Rig atau anjungan yang beroperas
untuk melakukan pengeboran mencapai 62 unit, dengan rincian 45 rig onshore dan 17 rig offshore. “Masalah yang dihadapi pengeboran sumur eksplorasi dan produksi serupa,” kata Kepala HUmas SKK Migas, Rudianto Rimbono di Jakarta, Minggu (9/11).

Kegiatan lainnya adalah kerja ulang dan perawatan sumur. Kerja ulang dari rencana sebanyak 1.102 sumur, terealisasi sebanyak 833 sumur atau 76 persen. Sedangkan program perawatan sumur dari 32.657 kegiatan terlaksana 24.028 atau 74 persen.

Dari kegiatan pengeboran sumur pengembangan, diperoleh initial produksi minyak sebesar 52.685 barel per hari dan 581 juta kaki kubik gas bumi per hari. Sedangkan dari kerja ulang dan perawatan sumur didapat tambahan produksi 26 ribu barel minyak per hari dan 286 juta kaki kubik gas bumi per hari. Total tambahan produksi minyak sebanyak 78.685 barel per hari dan gas bumi sebesar 867 juta kaki kubik per hari. “Tambahan ini untuk mengurangi gap karena produksi yang terus turun secara alamiah setiap tahun,” kata Rudianto.

Untuk menyelesaikan tantangan yang ada, tindak lanjut yang dilakukan SKK Migas antara lain, melakukan monitoring kegiatan dan koordinasi intensif dengan kontraktor kontrak kerja sama (Kontraktor KKS) yang mengalami kendala, komunikasi dengan pihak-pihak terkait, hingga inspeksi ke lapangan. “Kami perlu dukungan seluruh pemangku kepentingan agar kegiatan hulu migas dapat berjalan sesuai rencana,” katanya.

 

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)