Dunia Energi Logo Minggu, 19 November 2017

Penerapan Supplay Chain Management Tingkatkan Efisiensi Biaya di Sektor Energi

Kegiatan industri di sektor migas.

Kegiatan industri di sektor migas.

JAKARTA – Supplay Chain Management (SCM) atau Manajemen Rantai Suplai dirasakan semakin penting dalam era industrialiasasi saat ini. Terutama di sektor energi yang padat modal, padat teknologi, dan berisiko tinggi. Penerapan SCM yang benar terbukti mampu menghemat biaya hingga 30%.

Seperti diungkapkan Presiden Indonesian Association for Supply Chain Management (IASM) M Hanafi, dewasa ini peran manajemen rantai suplai makin strategis. Mengingat manajemen rantai suplai ini menguasai sebagian besar biaya perusahaan, bahkan mencapai 60-70 persen pembiayaan. Tak heran, banyak perusahan global yang menempatkan divisi SCM sebagai suatu yang strategis.

“Dengan menguasai sebagian besar dari biaya perusahaan maka penanganan manajemen suplai perusahaan pun semakin penting. Setidaknya jika dilakukan dengan baik akan membantu perusahaan menghemat biaya hingga 30 persen,” tutur Hanafi dalam seminar “Building Awareness of Best Practice in Supply Chain Managament” di Jakarta, Kamis, 14 November 2013.

Dalam perkembangannya, kata Hanafi, manajemen rantai suplai telah mengalami evolusi. Dari sebelumnya hanya dilihat sebagai pengadaan barang, saat ini manajemen rantai suplai dipandang sebagai keseluruhan kegiatani, mulai dari pengadaan barang, logistic, warehousing, inventory, distribution, hingga  tiba di tangan pengguna akhir.

Seiring dengan perubahan kesadaran ini, kebutuhan akan tenaga ahli suplai manajemen ke depan dirasakan semakin besar, tak terkecuali di Indonesia. Menjadi staf profesional di sektor manajemen suplai saat ini dan ke depan menjadi profesi yang layak dibanggakan. “Ke depan kebutuhan akan tenaga manajemen suplai profesional, yang sampai sekarang sulit didapatkan pada pasar tenaga kerja di Indonesia, pasti sangat tinggi,” ujarnya.

Menurut Hanafi, Indonesian Association for Supply Chain Management (IASM), yang kini berafiliasi dengan Institute for Supply Management (ISM), lewat seminar ini ingin memberikan inspirasi dan menyiapkan generasi muda Indonesia untuk menjadi profesional di bidang manajamen rantai suplai.

Maka dari itu, seminar ini menyasar generasi muda terutama kalangan mahasiswa, dengan menghadirkan 250 dari 25 perguruan tinggi terbaik di Jakarta, Depok, Bogor dan Bandung. Menurutnya, seminar ini merupakan yang kedua kalinya  setelah tahun lalu diselenggarakan.

Hal lain yang tak kalah penting, menurut Hanafi, adalah komitmen menginspirasi kaum muda sebagai generasi masa depan, untuk menjadi profesional yang patuh pada norma-norma etika bisnis (code of conduct). Secara khusus ini menjadi krusial ketika persaingan di era globalisasi menjadi semakin ketat dengan pemberlakuan Asean Free Trade Area (AFTA), Desember 2015 nanti. “Salah satu aspek yang sangat dituntut untuk menjadi profesional di bidang manajemen suplai adalah integritas,” tandasnya.

Manajemen Harus Andal

Pada kesempatan yang sama, Letjen TNI (purn) Kiki  Syahnakri, mantan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat mengungkapkan, dimensi yang harus diperhatikan dalam penerapan manajemen logistik adalah pendekatan manajemen terkini. Fungsi perencanaan dan penentuan kebutuhan yang meliputi penganggaran, pengadaan, penyimpanan atau pergudangan harus betul-betul diperhatikan.

“Dalam penerapan supplay chain, asas-asas yang harus diperhatikan yakni responsif, kesederhanaan, fleksibilitas, ekonomis serta memiliki daya dukung untuk memperoleh dukungan logistik dan penyediaan logistik,” ujar Kiki.

Contohnya untuk logistik militer, unsur-unsur yang harus diperhatikan yakni perbekalan, angkutan, pelayanan, pemeliharaan dan perbaikan, konstruksi serta evakuasi dan hospitalisasi. “Yang terpenting dalam logistik militer itu harus swasembada, sederhana, tepat mutu, tepat lokasi, tepat jumlah, dan tepat sasar. Juga mesti efisien,” urainya.

Ia menyitir prinsip yang tertanam di dunia militer bahwa logistik bukan hal yang menentukan dalam operasi militer. Namun dukungan sistem logistik yang tidak memadai, tentu tidak akan mendukung aspek strategis atau pergerakan taktis-operasional. Sebaliknya, apabila rencana strategis tidak dapat menjamin keamanan logistik, dapat dipastikan operasi militer mengalami kesulitan bahkan kegagalan.

“Agar operasi militer bisa berjalan dengan baik, maka rencana operasi taktis dan operasi logistik harus saling mendukung,” ujar jenderal yang menulis buku “Timor-Timur The Untold Story” ini.

Hemat USD 155 Juta

Di sesi lain seminar, Deputi Pengendalian Dukungan Bisnis Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Lambok Hutauruk menjelskan, manajemen suplai sebagai bidang yang sangat diperlukan di semua sektor, termasuk sektor migas.

Menurutnya, di SKK Migas peran manajemen suplai sangat penting dan strategis sebagai titik paling ujung dalam pembelanjaan anggaran (expenditure) dan menjadi critical path dalam tahapan proyek. “Dua per tiga biaya kegiatan usaha hulu migas dibelanjakan melalui fungsi SCM,” terangnya.

Di internal SKK Migas, lanjutnya, prinsip manajemen suplai benar-benar diterapkan, sehingga sukses melakukan efisiensi. Pada 2012 misalnya, SKK Migas berhasil melakukan penghematan sebesar USD 155 juta melalui pengadaan fasilitas bersama dan hasil optimalisasi sistem inventory.

Jumlah efisiensi yang dicapai SKK Migas terus meningkat sejak 2009 dan selalu melebihi target yang dipatok. Misalnya, pada 2009 dicapai efisiensi sebesar USD 61,9 juta, jauh lebih tinggi dari target USD 35 juta. Efisiensi pada 2010 di kisaran USD 75 juta, lalu pada 2011 mampu menghemat USD 143,5 juta, lebih tinggi dari yang ditargetkan sebesar USD 105 juta.

Lebih lanjut ia menegaskan, tantangan ke depan di sektor migas terletak pada aspek finansial, teknologi, operasional, dan pemberdayaan kapasitas nasional. Mengingat sumber migas lebih banyak tersebar pada laut dalam dan di wilayah timur Indonesia. Dengan perubahan ini, investasi pun berbeda.

“Investasi di darat dan laut dalam sangat berbeda, 1 berbanding 10. Kalau di darat dan wilayah barat investasinya USD 8 juta, maka di laut dalam dapat mencapai USD 70-80 juta,” terangnya lagi.

Ia menambahkan, industri migas adalah industri padat modal, padat teknologi, dan berisiko tinggi, sehingga memerlukan sumber daya pendukung yang lebih tinggi standar dan kualitasnya, termasuk di dalamnya tenaga profesional di bidang manajemen rantai suplai.

(Abraham Lagaligo / abrahamlagaligo@gmail.com)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)