Dunia Energi Logo Selasa, 21 November 2017

Pemerintah Tetap Konsisten terhadap Kebijakan Harga BBM

JAKARTA – Pemerintah menegaskan akan tetap konsisten terhadap kebijakan penetapan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan setiap tiga bulan sekali. Dengan begitu, harga jual yang berlaku saat ini hingga Maret 2016 merupakan rata-rata harga pembelian pada Oktober, November dan Desember 2015.

“Pemerintah akan menetapkan harga bahan bakar per tiga bulan, jika ada hal-hal yang sangat khusus baru dilakukan perubahan. Boleh lebih dari satu kali. Tapi kita akan coba tetap konsisten,”tegas IGN Wiratmaja Puja, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta, Kamis.

Menurut Wiratmaja, harga BBM di Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan negara lain yang menggunakan perhitungan harian, seperti yang diterapkan di Australia dan Singapura. Dengan perhitungan yang berbeda, maka pada saat harga minyak tinggi sekali di Juni 2015, harga BBM di Indonesia jauh lebih rendah dibanding dua negara tersebut. Namun pada saat ini ketika harga minyak rendah, harga BBM di Indonesia masih lebih tinggi.

“Karena kita menggunakan rata-ratanya per tiga bulan. Itulah kebijakan yang diambil pemerintah,” tukas dia.

Selain itu, perhitungan biaya distribusi BBM di Indonesia juga berbeda dengan negara lain. Pasalnya sebagai negara maritim, banyak pulau-pulau kecil, Pertamina juga perlu mengeluarkan biaya tambahan.

“Disana gelombang tinggi itu di Januari-April. Karena tidak ada penyimpanan yang cukup besar. Pada saat gelombang tinggi kapal-kapal kecil tidak bisa merapat. BBM susah, harganya bisa Rp15 ribu-Rp 30 ribu per liter,” ungkap Wiratmaja.

Untuk itu, lanjut dia, pemerintah akan membangun storage-storage yang bisa menyimpan BBM hingga empat bulan. Sehingga kalau gelombang tinggi, cadangan BBM masih cukup hingga menunggu hingga kapal datang.

“Misalnya disebelah selatan Kupang itu, Pulau Rote, ada 14 kapal kecilnya Pertamina tenggelam karena maksain bawa BBM saat gelombang tinggi,” tukas dia.

Wianda Pusponegoro, Vice President Corporate Communication Pertamina, mengatakan jaringan distribusi BBM di Indonesia paling rumit di seluruh dunia. Distribusi BBM di luar Jawa dengan Jawa tidak bisa disamakan. Apalagi jumlah BBM yang harus didistribusikan sangat besar.

“Roda dua dan roda empat terus meningkat dengan pertumbuhan 7-8% per tahun. Kita sekarang lakukan upaya untuk tutup gap, tapi tetap ada kekurangan 100 ribu barel per hari,” kata dia. (RA)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)