Dunia Energi Logo Kamis, 23 November 2017

Pemerintah Hanya Bangun Dua SPBG pada 2016

JAKARTA – Pemerintah menargetkan hanya membangun dua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) pada 2016 seiring pemangkasan anggaran Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

IGN Wiratmaja, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, mengatakan pembangunan SPBG yang semula direncanakan dibangun sembilan unit, menjadi hanya dua unit dengan lokasi di Bekasi, Jawa Barat. “Roadmap-nya harus disesuaikan. Tadinya roadmap kita kan agresif, sekarang akan menurun sedikit,” kata dia disela-sela Raker Menteri ESDM dengan Komisi VII DPR, Senin.

Kementerian ESDM akan memperbarui roadmap konversi BBM ke gas dan roadmap pembangunan infrastruktur dan jaringan distribusi gas bumi untuk rumah tangga seiring pengurangan anggaran Ditjen Migas Kementerian ESDM dari Rp3,289 triliun menjadi Rp2,3 triliun pada tahun depan.

Selain pembangunan SPBG yang dikurangi, pembangunan jaringan distribusi gas bumi untuk rumah tangga dari semula direncanakan di tujuh lokasi, berkurang menjadi lima lokasi yaitu di Surabaya, Prabumulih, Tarakan, Batam dan Balikpapan.

Selain itu, konversi BBM ke BBG untuk nelayan dipangkas menjadi 5.000 paket dari 11.000 paket yang direncanakan. Sementara konversi BBM ke BBG untuk kendaraan dari rencana 3.250 paket menjadi 1.000 paket.

Menurut Wiratmaja, pembagian 1.000 konverter kit baru untuk kendaraan umum tahun depan, kurang ideal dengan jumlah SPBG yang tahun ini jumlahnya diperkirakan sekitar 40 unit. Agar ekonomis, sebaiknya untuk tiap unit SPBG, dibagikan 500-1.000 unit konverter kit .

Dia mengatakan, pengurangan anggaran itu untuk konversi BBM ke gas merupakan pilihan karena pemerintah berupaya agar pembangunan jaringan gas bumi untuk rumah tangga pada 2016 tidak banyak mengalami pengurangan. Selain itu, pemerintah juga mempertahankan pembangunan tangki penyimpanan LPG dan BBM di Indonesia Timur.

“Nanti konversi BBM ke LPG kan bergeser ke Indonesia Timur seperti Papua dan NTT. Jadi kita harus bangun dulu deponya, baru tahun 2017 disebarin paket perdananya,” tandas Wiratmaja.(AT)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)