Dunia Energi Logo Jumat, 24 Maret 2017

Pemerintah Belajar EBT hingga Uni Emirat Arab

JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) beserta badan usaha milik negara di sektor energi akan bertandang ke Uni Emirat Arab (UEA) guna mengikuti International Renewable Energy Agency (IRENA) 2017. Kunjungan ini untuk meninjau perkembangan kemajuan teknologi energi baru terbarukan untuk bisa dijadikan referensi dalam pengembangannya di tanah air.

“Hari ini kita siap berangkat untuk menghadiri IRENA di Abu Dhabi, bersama Pak Menteri, Dirjen EBTKE juga, salah satu agenda tentu ingin mempelajari bagaimana bisa mencipatakan mekanisme sehingga harga EBT murah,” kata Sujatmiko, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Publik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta, Jumat (13/1).

Menurut Sujatmiko, salah satu alasan utama ikut sertanya Indonesia dalam salah satu forum terbesar di sektor EBT ini adalah ketersediaan teknologi EBT dengan harga yang ekonomis di dunia internasional. Ini sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia yang masih sangat mahal sehingga investasinya terus mengalami kendala.

IRENA sendiri memang menjadi salah satu perhelatan akbar dalam dalam sektor pengembangan EBT. Perwakilan dari 150 negara dijadwalkan hadir dalam acara yang dihelat pada 14-15 Januari 2017 ini.

“Dalam kunjungannya pemerintah beserta beberapa BUMN, Pertamina, PLN dan PGE untuk bisa mempelajari perkembangan dalam pembangunan pembangkit EBT juga akan mengunjungi salah satu fasilitas pembangkit listrik di UEA,” kata dia.

Ignasius Jonan, Menteri ESDM, sebelumnya sempat menggelar pertemuan dengan Menteri Energi Uni Emirat Arab (UEA), Suhail Al Mazroui. Sejak saat itu Jonan memang berambisi untuk menerapkan sistem EBT murah seperti yang diterapkan di UEA. Di UEA Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bisa memproduksi listrik dengan harga hanya US$ 2,99 sen/kWh.

Pemerintah sendiri terus berupaya mencari solusi untuk bisa menekan biaya produksi energi EBT. Salah satunya adalah melalui regulasi untuk menetapkan feed in tariff yang memenuhi nilai keekonomian sehingga bisa cepat dikembangkan.

Arcandra Tahar Wakil Menteri ESDM menyatakan pembahasan insentif Peraturan Menteri dalam penetapan tarif listrik EBT masih dilakukan, Ia meyakini beleid yang diharapkan bisa rampung dalam waktu dekat.
“Belum ya masih dibahas, tapi kita berusaha secepat mungkin bisa selesai,” tandasnya.(RI)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)