Dunia Energi Logo Minggu, 22 Oktober 2017

Pekerja Freeport yang Tewas Akibat Runtuhnya Big Gossan Menjadi 5 Orang

Upaya penyelamatan pekerja Freeport yang terjebak di reruntuhan tambang bawah tanah Big Gossan di Mimika, Papua.

MIMIKA – Jumlah pekerja PT Freeport Indonesia yang tewas akibat musibah runtuhnya tambang bawah tanah “Big Gossan” di Tembagapura, Mimika, Papua menjadi lima orang. Hal ini terungkap dari up date upaya penyelamatan yang disampaikan manajemen Freeport pada Sabtu, 18 Mei 2013.

Sebelumnya dikabarkan bahwa jumlah korban yang tewas akibat musibah yang terjadi pada Selasa pagi, 15 Mei 2013 itu sebanyak empat orang. Sedangkan 10 pekerja lainnya yang berhasil dievakuasi mengalami luka-luka, dan diterbangkan ke Jakarta untuk mendapatkan perawatan lebih intensif.

Disebutkan pula sebelumnya, korban yang masih terjebak di bawah reuntuhan Big Gossan sebanyak 24 orang, dan upaya penyelamatan terus dilakukan tanpa kenal lelah. Namun pada Sabtu, 18 Mei 2013, Mine General Manager PT Freeport Indonesia, Nurhadi Sabirin mengatakan, korban yang tewas menjadi lima orang, dan 23 lainnya masih terjebak di bawah reruntuhan. Korban tewas kelima itu bernama Roy Kailuhu.

Nurhadi yang juga mengepalai Tim Tanggap Darurat penanganan musibah itu pun menegaskan, Freeport akan terus mencurahkan segala sumber daya yang tersedia untuk misi penyelamatan, akiabt musibah yang terjadi pada fasilitas pelatihan di lokasi tambang bwah tanah Big Gossan itu.

“Kami memiliki ahli kelas dunia dan peralatan yang dikerahkan untuk mencoba untuk menyelesaikan ini secepat mungkin,” tegasnya. Meski demikian, upaya penyelamatan semakin terganggu akibat bebatuan yang terus berjatuhan dari atas lokasi reruntuhan.

Nurhadi menambahkan, salah satu bagian dari peralatan yang digunakan dalam penyelamatan dan upaya pemulihan adalah alat yang disebut “Lifepak 3” guna mendeteksi getaran. “Perangkat ini bisa mendeteksi getaran yang cukup halus, seperti detak jantung manusia,” ujarnya.

Dengan Lifepak 3, diharapkan titik keberadaan 23 pekerja yang masih terjebak di bawah reruntuhan bisa ditemukan, dengan jalan mendeteksi detak jantung mereka. Namun alat canggih itu terkesan masih kurang bisa membantu, karena masih banyaknya getaran lain akibat batu yang masih terus berjatuhan.  

“Kami belum mampu mendeteksi tanda-tanda potensial lainnya dari kehidupan di 72 jam terakhir,” kata Nurhadi pada Sabtu siang. “Kami terus melakukan upaya-upaya non-stop 24 jam sehari, secepat mungkin semua upaya yang dapat dilakukan secara aman untuk menyelamatkan nyawa,” tandasnya.

Sayangnya, kata Nurhadi, banyak waktu yang terbuang akibat longsoran batu di lokasi kejadian masih terus berlangsung. Kondisi ini semakin memperkecil kemungkinan menemukan korban dengan selamat. “Kami mengajak Anda semua untuk terus mendoakan, agar Tuhan selalu menjaga rekan-rekan kami dan keluargnya,” ucap Nurhadi penuh harap.

(Iksan Tejo/duniaenergi@yahoo.co.id)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)