Dunia Energi Logo Sabtu, 17 November 2018
Lucas Djunaidi, Vice President Director Mitrabahtera Segara Sejati

Patok Kinerja Keuangan Positif Tahun Ini

SETELAH sempat anjlok hingga level US$30-an per ton, harga batu bara telah kembali menguat. Bahkan, harga batu bara acuan (HBA) pada Maret 2018 mencapai level tertinggi hingga menembus US$101,8 per ton. Perbaikan harga telah membuat kinerja perusahaan-perusahaan batu bara kembali positif.

Rata-rata laba bersih perusahaan-perusahaan itu naik signifikan pada akhir 2017. Perbaikan kinerja keuangan perusahaan-perusahaan batu bara ikut berdampak positif pada perusahaan pendukung, seperti perusahaan kontraktor jasa tambang.

Namun, imbas positif belum dirasakan PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), perusahaan penyedia solusi logistik dan transportasi laut terpadu. Laporan kinerja keuangan anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY) pada akhir 2017 masih merah, bahkan pada kuartal I 2018 perusahaan pengangkutan batu bara tersebut masih membukukan rugi bersih US$5,5 juta.

Untuk mengetahui lebih jauh, penyebab masih negatifnya kinerja keuangan Mitrabahtera dan target yang ingin dicapai perusahaan ke depan, Dunia-Energi mewawancarai Lucas Djunaidi, Vice President Director Mitrabahtera di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu. Berikut kutipannya:

Kinerja keuangan Mitrabahtera pada 2017 negatif. Bagaimana dengan proyeksi pada tahun ini, apakah akan bisa positif?
Kalau melihat performace 2016 ke 2017 walaupun masih negatif tapi menunjukkan kalau kami sudah improve.

Strategi yang akan diterapkan perusahaan seperti apa agar kinerja keuangan bisa positif?
Kami akan melakukan konsolidasi internal. Strategi kami itu safety number one. Kami ingin kru merasa nyaman, bisa bekerja tenang dan selamat karena bisnis ini 24 jam sehari dan di laut. Kedua, kami akan improve meningkatkan service ke customer. Ketiga, kami juga berusaha meningkatkan aktivitas operasional menjadi lebih efisien.

Biaya-biaya yang tidak rasional dipangkas, maka kalau dilihat 2017 dibanding 2016 itu kami banyak memangkas biaya-biaya. Pada 2018 disamping pertumbuhan revenue, cost pun akan kami lihat terus mana yang lebih bisa efisien.

Baca juga  Presiden Kantongi Tiga Nama Calon Dirut Pertamina

Kami melihat coal producer sudah bisa balik ke teritorial, mining contractor juga, nah giliran kami sekarang. Kalau ditanya, kami maunya positif. Kami melihat first quarter masih challenging karena ada bad weather, mine floaded, volumenya juga. Ini yang harus kami kejar. Kami perlu kerja keras untuk positif atau paling tidak netral. Kami punya rencana optimis, tapi di tengah jalan ada faktor yang diluar kontrol. Ini semoga saja tidak terjadi.

Hingga kuartal I kinerja juga masih negatif. Bagaimana upaya yang akan dilakukan pada kuartal-kuartal berikutnya?
Kinerja kami walau secara buku negatif tapi secara neraca positif. Kami punya EBITDA bagus, selama ini tidak ada masalah dengan bank. Bahkan ketika merefinance utang melalui Grup Indika, bank sempat tanya kenapa di-refinance. Ini strategi agar cash position kami kuat. Baru-baru ini kami juga dapat funding dari Woori Bank. Ini strategi untuk menambah armada, untuk mengantisipasi pertumbuhan batu bara yang harus kami angkut.

Jadi kalau bicara keuangan harusnya kami tidak ada masalah. Kuartal I masih rugi. Biasanya kalau di tambang itu karena kuartal I lebih terimpact karena cuaca. Harapan kami bisa mengejar ketertinggalan kami di kuartal 1 pada kuartal-kuartal selanjutnya sampai akhir tahun. Harapan kami bisa lebih baik dari 2017.

Target kami positif, tapi enggak tahu juga ya, karena melihat perkembangan di kuartal I cuaca yang berdampak juga. Faktor cuaca itu signifikan. Pada 2016 misalnya, ada beberapa kapal, bukan cuma kami, sampai tongkang itu ada yang hanyut dan terdampar. Ada beberapa kejadian juga itu.

Untuk proyeksi pendapatan tahun ini seperti apa?
Prediksi pendapatan tahun ini naik 20%-30%. Itu sebetulnya belum kami faktorkan terkait akuisisi 45% saham Kideco oleh Indika, sehingga penguasaan saat ini menjadi 91% . Sebetulnya kami punya bussiness plan, masih belum faktorkan dari kenaikan grup. Itu murni dari pihak ketiga.

Baca juga  Nilai Proyek Pengembangan Enam Wilayah Kerja Panas Bumi PLN Capai US$640 Juta

Awal tahun kami pernah lakukan keterbukaan informasi soal kontrak dengan Muji sekitar US$78 juta. Jadi kami waktu itu mengasumsikan peningkatan pertumbuhan dari luar grup. Mudah-mudahan dengan tambahan dari grup bisa lebih baik.

Untuk Kideco ada 10 set dan satu floating crane. Kapasitas mungkin sekitar 10 jutaan. Dan yang pasti coal miners, coal producers tidak akan agresif naik signifikan, biasanya tidak seperti itu. Biasanya bertahap, naik mungkin 10%, umumnya.

Saat ini kontrak-kontrak yang dimiliki Mitrabahtera jangka panjang atau jangka pendek?
Kalau sekarang rata-rata kontrak ada yang lima tahun. Waktu batu bara sempat drop, ada yang kontrak jangka panjang tidak diperpanjang. Waktu itu ada yang cuma diperpanjang satu tahun, ada yang tidak diperpanjang tapi lebih sifatnya spot, ada yang enam bulan.
Terakhir sudah mulai kelihatan tanda-tanda perbaikan, makanya awal tahun ini kami sudah dapat kontrak jangka panjang, lima tahun. Ada kontrak yang kita sedang negosiasi lagi kemungkinan ekstension lagi.

Seberapa besar pengaruh harga komoditas, khususnya batu bara terhadap kinerja Mitrabahtera?
Kami di mata rantai batu bara, coal value supply chain. Jadi ketika harga membaik, produsen batu bara pasti melihat upside-nya. Yang tadinya tiarap, stop produksi, mereka sekarang mulai ramp up produksi. Efeknya mereka butuh mining contractor, seperti mungkin Petrosea, Pamapersada Nusantara, maupun BUMA. Mereka dapat overburden removal.
Disinipun mereka harus investasi, alat-alat berat, butuh funding. Selama itu ditunjang kondisi mining contractor yang kuat, mereka bisa grab di oppotunity, sehingga yang terjadi produksi meningkat.

Kenapa pengaruh harga batu bara belum juga memberikan dampak positif bagi kinerja keuangan Mitrabahtera?
Coal producer sudah mendapat coal pricing yang baik mining contractor sudah dapat juga. Nah ketika coal volumenya sudah meningkat, posisi kami yang terakhir. Jadi ketika dulu coal price memburuk, kami juga terkena dampak negatifnya terakhir. Seberapa besar dampaknya, memang ada, khususnya spot. Tapi kami kan tidak mengandalkan spot saja, mengandalkan long term contract yang perlu di renegociate. Kami perlu untuk extend menjadi jangka panjang sehingga perlu renegosiasi lagi dalam arti volumenya bisa ada peningkatan atau tidak, harga bisa meningkat atau enggak.

Baca juga  Kewajiban Distribusi Premium Tidak Ganggu Roadmap Pengembangan Kilang

Contohnya ketika coal price melemah, kan banyak perusahaan batu bara renegociate dengan kami, termasuk sister company Kideco (PT Kideco Jaya Agung). Akhirnya, kami cari win win solution. Jadi ketika coal price membaik bisa duduk bersama dan negosiasi lagi. Jadi belum semuanya terefek secara positif ke kami, kecuali yang spot.

Mitrabahtera hingga saat ini dominan dalam pengangkutan batu bara. Apakah ada rencana untuk diversifikasi usaha?
Kami besar karena batu bara. Kami tentu melihat pengalaman ke belakang, bagaimana coal melemah, sehingga berpikir bagaimana meningkatkan kinerja perusahaan. Kami terbuka untuk melakukan diversifikasi bahkan ke oil and gas. Tapi sektor oil and gas ini sangat highly regulated, sehingga kami tentu saja perlu benar-benar sangat hati-hati di dalam membuat keputusan kita perlu perlu melakukan feasibility yang sangat matang.(RA/AT)

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.