Dunia Energi Logo Minggu, 17 Desember 2017

Martabe Memulai Produksi di Waktu Yang Tepat

JAKARTA – Presiden Direktur G-Resources Martabe, Peter Albert menilai, langkah perusahaannya untuk memulai produksi di Juli 2012, merupakan pilihan yang tepat ditengah tingginya prospek emas di pasar internasional. Produksi perdana tambang emas Martabe ditandai dengan penuangan emas pertama ke pabrik pengolahan bijih di Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada Selasa sore, 24 Juli 2012.

Peter Albert mengakui, produksi perdana tambang emas Martabe berlangsung ditengah lesunya perekonomian Eropa, yang belum keluar dari krisis. Namun ia tidak khawatir bahkan sangat yakin pasar emas dan perak tidak akan jeblok ke depan. Terlebih ditengah kelesuan ekonomi Eropa saat ini, maka investor berebut membeli emas sebagai komoditas lindung nilai. “Prediksi kami prospek emas masih cukup baik ke depan,” ujarnya di Jakarta, Kamis, 26 Juli 2012.

Tambang emas Martabe memproduksi batangan emas bercampur perak, yang selanjutnya dikirim untuk dimurnikan di PT Logam Mulia Jakarta, menjadi emas batangan berkadar 99,99% LME (London Metal Exchange). Produk emas murni itu selanjutnya dijual ke pasar spot internasional, dengan pembeli yang sudah stand by dan pembayaran langsung.

Tambang Emas Martabe terletak di sisi barat pulau Sumatera, Kecamatan Batang Toru, Propinsi Sumatera Utara, dengan luas wilayah 1.639 km2, di bawah Kontrak Karya generasi keenam yang ditandatangani April 1997. Tambang Emas Martabe memiliki sumberdaya 7,86 juta oz emas dan 73,48 juta oz perak, dengan kapasitas produksi per tahun sebesar 250.000 oz emas dan 2-3 juta oz perak berbiaya rendah. “Umur tambang Pit-1 diprediksi hingga 10 tahun, dan keseluruhan wilayah Kontrak Karya kami sangat prospektif dengan potensi eksploitasi hingga 50 tahun,” jelas Peter lagi.

Ia menambahkan, sejak awal beroperasi hingga saat ini, G-Resources Martabe telah mengeluarkan belanja modal (capital expenditure/Capex) sebesar USD 700 juta. Sementara belanja operasional perusahaan ini sebesar USD 350 – 400 per oz. “Merupakan biaya operasional terendah di antara tambang-tambang emas yang lain,” jelasnya.

Saat ini pemegang saham G-Resources Martabe adalah G-Resources Group Limited (95%) dan PT Artha Nugraha Agung (ANA) sebanyak 5%. PT ANA merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Tapanuli Selatan (70%) dan Propinsi Sumatera Utara (30%) yang mendapatkan saham divestasi perusahaan tambang emas tersebut. Pemilikan saham oleh PT ANA diperoleh dengan pinjaman, yang pembayarannya dicicil lewat dividen.

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)