Dunia Energi Logo Kamis, 19 Oktober 2017

Lapangan Tua Peninggalan Belanda Itu Kini Bangkit Kembali

Lapangan Sangatta

Kegiatan eksplorasi Pertamina EP di Lapangan Sangatta.

Jika ada kemauan tentu ada jalan. Kesulitan bukan menjadi hambatan namun merupakan tantangan. Lapangan yang tadinya dipandang sebelah mata, kini menjadi tumpuan harapan lewat akrobat otak kanan para engineer perusahaan minyak milik negara.   

PT Pertamina EP rupanya tidak hanya menjadi tempat para ahli teknik perminyakan mencari nafkah. Lebih dari itu, menjadi tempat sekolah yang tiada duanya. Di sana mereka banyak menemukan teori-teori baru, yang cenderung keluar dari pakem pemboran hidrokarbon yang populer di dunia.

Maklum, lapangan-lapangan minyak dan gas bumi (migas) yang dikelola anak usaha PT Pertamina (Persero) ini rata-rata berusia tua, yang tidak dilirik Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) migas lainnya. Mungkin karena tanggung jawab sebagai perusahaan negara, membuat Pertamina EP seolah tak pernah lelah mengejar kekayaan alam yang oleh hitungan perusahaan lain tidak terlalu ekonomis.

Toh lewat usaha cerdas para engineer perusahaan negara itu, pembuktian demi pembuktian berhasil dilakukan. Terbaru, ialah pembuktian pada sumur eksplorasi Tapah-1 di Sangatta, Kalimantan Timur. Tidak tanggung-tanggung, pembuktian itu dilakukan pada saat sebagian besar orang menikmati libur panjang Natal dan Tahun Baru 2013.

Sorry Mas, kami kirim informasi saat hari libur. Soalnya teman-teman di lapangan tidak ada yang libur,” tutur salah seorang Humas Pertamina EP, Arya Dwi Paramita kepada Dunia Energi, saat pertama kali menginformasikan penemuan di Tapah-1 pada Minggu sore, 30 Desember 2012.

Manager Humas Pertamina EP, Agus Amperianto menjelaskan, pembuktian hidrokarbon pada sumur Tapah-1 Sangatta, merupakan suatu keberhasilan penerapan konsep Oil Pool Enlargement. Lewat metode itu, sumur eksplorasi Tapah-1 di Sangatta Kalimantan Timur menghasilkan minyak menembus angka 1.000 barel minyak per hari (BOPD).

Hasil uji kandungan lapisan ke-6 (DST-6) dari lapisan batupasir formasi Lower Balikpapan pada kedalaman 1551-1554 m  didapatkan laju alir minyak sebesar 1.017 BOPD, dan laju alir gas 1 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

“Dengan keberhasilan pembuktian cadangan minyak di kompartemen sebelah timur lapangan Sangatta, diharapkan menjadi momen kebangkitan untuk peningkatan produksi di lapangan Sangatta,” ucap Agus optimis.

Ia menceritakan, sebelumnya yakni pada awal 2012, telah ditemukan cadangan minyak di area Sangatta dari sumur eksplorasi Salmon Biru-1 yang terletak 2 km disebelah barat Lapangan Sangatta. Hasil dari DST-3 didapat minyak total 50 barel dan laju alir gas 0.08 MMSCFD. Kegiatan eksplorasi Salmon Biru menerapkan konsep eksplorasi baru pada batupasir formasi Pulubalang yang terbukti menghasilkan hidrokarbon di Lapangan Sangatta.

Lapangan Sangatta sendiri, merupakan lapangan tua peninggalan Belanda yang di kembangkan oleh Pertamina sejak tahun 1974, dan masih berproduksi hingga saat ini. Di masa yang akan datang kebangkitan Lapangan Sangatta menjadi harapan baru bagi Pertamina EP, terlebih setelah penemuan hidrokarbon di Lapangan Sangatta pada akhir 2012 kemarin.

Targetkan 137 Ribu BPH di 2013

Agus juga menerangkan, kegiatan eksplorasi yang dilakukan Pertamina EP sepanjang 2012 tidak hanya pemboran, tetapi juga Survei Seismik 2D West Sangatta (41 Km), 2D North Sangatta (52 Km) ,dan 3D Sturisoma (157 Km2) yang nantinya di harapkan dapat menelurkan prospek-prospek siap bor yang dapat dieksekusi dalam 2 tahun ke depan.

Selanjutnya pada tahun 2013, Kegiatan eksplorasi Pertamina EP menargetkan pemboran sebanyak 28 sumur. Adapun target survey seismic 2D Eksplorasi adalah sebanyak 817 km serta Survey Seismik 3D pada wilayah seluas 1488 km2. Jumlah studi yang akan dilaksanakan pada tahun 2013 adalah 6 studi.

Agus menambahkan, tahun ini Pertamina EP menargetkan produksi minyak sekitar 137 ribu barel per hari, dan gas sekitar 1.160 MMSCFD. “Estimasi Anggaran Biaya Investasi pada 2013 sekitar Rp 10,3 triliun, lebih tinggi jika dibandingkan dengan prognosa ABI tahun 2012 sebesar Rp 7,2 triliun,” tandasnya.

(Abraham Lagaligo / abrahamlagaligo@gmail.com)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)