Dunia Energi Logo Minggu, 22 Oktober 2017

Konsumsi Energi Indonesia Mencapai 60 Juta BTU Per Kapita Pada 2030

Fasilitas produksi migas Pertamina.

Fasilitas produksi migas Pertamina.

NUSA DUA – Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan memprediksi, konsumsi energi masyarakat Indonesia bakal mencapai kisaran 60 juta British Thermal Unit (BTU) pada 2030. Peningkatan ini seiring dengan pertumbuhan angka PDB (Produk Domestik Bruto) tahun itu sekitar USD 12.000.

Prediksi ini diungkapkan Karen, saat menjadi pembicara dalam “Pertemuan Puncak Pemimpin Redaksi Se-Indonesia (Forum Pemred)” yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Kamis – Jumat, 13 – 14 Juni 2013. Maka dari itu, ujar Karen, Pertamina harus siap menjalankan peran penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi di Indonesia, melalui kepemimpinan dalam bisnis energi.

Berbicara dalam sesi konferensi bertajuk “Mengukuhkan Ketahanan Energi Nasional”, Karen menuturkan bahwa pada 2030 diperkirakan PDB per kapita Indonesia akan mencapai sekitar USD 12.000. Seiring dengan itu, maka konsumsi energi masyarakat Indonesia pada tahun yang sama, diprediksi berada di kisaran 60 juta BTU per kapita.

Dengan posisinya sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) energi terbesar di Tanah Air, kata Karen, Pertamina akan berperan aktif dan menentukan bagi keberlangsungan pasokan energi di Indonesia serta di kawasan regional.

“Melalui kepemimpinan pada bisnis inti migas (minyak dan gas) serta pertumbuhan bisnis baru melalui diversifikasi sumber energi dalam koridor green business yang selaras dengan aspek keselamatan lingkungan, Pertamina  siap menjalankan peran penting, untuk keberlanjutan pasokan energi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di kawasan regional Asia,” terang Karen.

Dia melanjutkan, usaha penting yang harus dilakukan oleh Pertamina dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga keberlangsungan pasokan energi pada 2030, diantaranya adalah membangun kekuatan bisnis hulu dengan kemitraan yang kuat dan saling menguntungkan. Harus pula didorong pengembangan energi baru dan terbarukan, yang dapat mendukung pertumbuhan usaha Pertamina.

Karen menuturkan, produksi migas Pertamina terus menunjukkan peningkatan dalam kurun 5 tahun terakhir, di tengah terus merosotnya rata-rata produksi migas secara nasional. Dengan Brigade 200K, juga melalui program I/E OR (peningkatan produksi minyak tingkat lanjut, red) diharapkan produksi migas Pertamina terus meningkat hingga 2,2 juta Barrel Oil Equivalen Per Day (BOEPD/barel setara minyak per hari) di 2025.

“Sesuai dengan harapan masyarakat Indonesia dan juga pemerintah, Pertamina akan terus melakukan ekspansi bisnis hulu migas. Sehingga Pertamina kelak tidak hanya menjadi pemimpin di dalam negeri, melainkan juga kuat di operasi global, dan menjadikan ketahanan energi nasional menjadi lebih terjamin,” tuturnya.

Ekspansi ke Energi Alternatif

Toh demikian, lanjut Karen, Pertamina tidak terlena hanya menggenjot produksi energi fosilnya semata. Namun juga melakukan ekspansi pengembangan berbagai energi alternative, serta energi baru terbarukan.

Untuk pengembangan dan pemanfaatan energi alternatif, Pertamina terus melanjutkan ekspansi pada gas metana batubara (Coal Bed Methane/CBM), shale gas, energi berbasis sampah kota, hingga pengembangan panas bumi.

“Sebagai perusahaan yang ditunjuk pemerintah untuk menjalankan program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG), Pertamina juga berinisiatif untuk membangun infrastruktur BBG di Indonesia, di luar pendanaan yang diperoleh dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara),” paparnya.

Dalam kaitan pengembangan infrastruktur gas, sambung Karen, Pertamina berupaya maksimal merealisasikan berbagai proyek infrastruktur gas. Diantaranya modifikasi kilang Arun, realisasi Arun-Medan Gas Pipeline, serta membangun jaringan Trans Java Gas Pipeline. Pertamina juga mendorong upaya pemanfaatan LNG untuk bahan bakar di sektor pertambangan, terutama untuk alat-alat berat.

(Abdul Hamid / duniaenergi@yahoo.co.id)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)