Dunia Energi Logo Sabtu, 26 Mei 2018

Konsumsi Batu Bara Domestik Tetap Tinggi hingga 2050

JAKARTA – Pemerintah memproyeksikan batu bara masih akan menjadi sumber energi utama di Indonesia, bahkan hingga 2050. Meskipun tren penggunaan batu bara terus menurun, secara keseluruhan konsumsi masih tetap akan tinggi.

“Porsi batu bara dalam bauran energi nasional masih cukup besar. Batu bara masih menjadi energi termurah hingga saat ini. Pemerintah akan mengurangi secara bertahap. Porsinya pada 2050 mendatang diproyeksikan berkurang menjadi 25% dari total penggunaan sumber energi yang ada,” kata Arcandra Tahar, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rabu (9/5).

Saat ini posisi energy mix batu bara hanya dibawah energi baru terbarukan (EBT) sebesar 31%, serta diatas gas 24% dan minyak sebesar 20%.

Salah satu faktor tingginya konsumsi batu bara adalah penggunaan untuk pembangkit listrik karena paling murah. Data Kementerian ESDM total konsumsi batu bara pada pembangkit listrik 2017 sebesar 83 juta ton atau 86% dari total konsumsi batu bara domestik di Indonesia. Sedangkan untuk industri semen, tekstil, pupuk dan karet menempati posisi kedua dengan total permintaan mencapai 13,7 juta ton.

Pada 2018, PT PLN (Persero) dalam proyeksinya menargetkan menyerap batu bara sebesar 92 juta ton.

“Selama lima tahun terakhir, pembangkit listrik tetap menjadi pelanggan pengguna batu bara terbesar di Indonesia,” ungkap Arcandra dalam keterangan tertulisnya.

Selain menjadi penyumbang sumber energi nasional, batu bara juga merupakan salah satu penyumbang penerimaan negara yang cukup signifikan. Pada 2017, tercatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor ESDM meningkat signifikan sebesar 62% menjadi Rp129,07 triliun atau sekitar US$9,53 miliar. Subsektor mineral dan batubara (minerba) memberikan kontribusi sebesar Rp40,6 triliun. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan dengan target PNBP untuk minerba yang hanya sebesar Rp32,7 triliun

Baca juga  Miris, 2016 Hanya Satu Wilayah Kerja Migas yang Laku

“Capaian ini menunjukkan bahwa sektor energi dan sumber daya mineral, selain berperan memastikan pasokan energi yang terjangkau dan nilai tambah domestik, juga memiliki pengaruh besar terhadap pembangunan nasional dan pertumbuhan ekonomi,” tandas Arcandra.(RI)

Tinggalkan Komentar