Dunia Energi Logo Kamis, 23 November 2017

Jejak Peraih PROPER Emas

Pengolahan getah karet, satu di antara beberapa program Community Development binaan PT Adaro Indonesia, salah satu peraih PROPER Emas 2011-2012.

Pengolahan getah karet, satu di antara beberapa program Community Development binaan PT Adaro Indonesia, salah satu peraih PROPER Emas 2011-2012.

JAKARTA – Dimulai sejak 2002, Penilaian Program Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) semakin mendapat perhatian dari banyak pelaku industri. PROPER yang semula dianggap beban, kini justru menjadi kebutuhan guna membuktikan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan hidup dan masyarakat sekitar wilayah operasinya.

Tahun ini, KLH kembali menggelar penilaian PROPER untuk periode 2012 – 2013, yang hasilnya akan disampaikan pada “Malam Anugerah PROPER 2013”, akhir Desember mendatang. Dari semua peringkat yang ada, peringkat Hijau dan Emas adalah yang paling didambakan oleh semua perusahaan.

Maklum, dua peringkat teratas ini diberikan kepada perusahaan yang dari kriteria penilaian, sudah melakukan manajemen lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan peraturan perundang-undangan (beyond compliance). Khusus untuk Emas, diberikan kepada perusahaan yang sudah menerapkan beyond compliance bukan hanya pada lingkungan, tetapi sekaligus mampu mengangkat kesejahteraan sosial masyarakat di sekitarnya.

Pada penilaian PROPER periode lalu, 2011 – 2012, sebanyak 12 perusahaan ditetapkan sebagai peraih peringkat Emas. Yaitu PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (Pabrik Palimanan), Chevron Geothermal Salak Ltd, PT Pertamina Geothermal Energy Area Kamojang, Chevron Geothermal Indonesia Ltd. Unit Panas Bumi Drajat, Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Ltd, PT Holchim Indonesia Tbk – Cilacap Plant, PT Unilever Indonesia Tbk – Pabrik Rungkut, PT Semen Gresik (Persero) Tbk – Pabrik Tuban, PT Erna Djuliawati (Lyman Group), PT Adaro Indonesia, PT Badak NGL, dan PT Medco E&P Indonesia – Rimau Asset.

Ketua Sekretariat PROPER KLH, Sigit Reliantoro mengaku, mereka yang mendapatkan peringkat Emas memang telah membuktikan kinerja terbaiknya dalam mengelola lingkungan dan mendorong kesejahteraan sosial masyarakat di sekitarnya. Apa yang mereka lakukan inovatif, baru, partisipatif, luar biasa, serta bernilai ekonomi.   

Ia mencontohkan Emas yang diberikan untuk Medco. Perusahaan minyak dan gas bumi ini mendapatkan peringkat PROPER Emas karena mengembangkan pertanian organik. “Kita anggap itu sebagai inovasi, karena tidak mudah meyakinkan petani untuk beralih ke sistem organik. Hasil pertaniannya pun bisa dijual sehingga aspek lingkungan dan ekonomi saling beriringan,” jelas Sigit.

Asisten Deputi Pengendalian Pencemaran Bidang Pertambangan, Energi dan Migas ini juga mencontohkan Emas yang diperoleh LNG Badak. Perusahaan energi itu berhasil membangun sistem manajemen lingkungan yang berbasis knowledge management. Air pendingin yang suhunya panas, berhasil dinormalkan suhunya sehingga tidak merusak lingkungan saat dibuang.

Comdev (Community Development) Badak LNG, menurut Sigit juga benar-benar pioneer. Yakni program “Bedah Kampung” yang berjalan seiring dengan 3R (Reuse, Reduce, Recycle) serta melibatkan Pak Ali, warga setempat yang kemudian menjadi local hero. Warga yang tadinya suka ngebom ikan, berhasil diajak merehabilitasi mangrove dan terumbu karang, sekaligus menjadi peternak budidaya ikan hias bernilai mahal.   

Lain lagi Adaro. Menurut Sigit, Adaro menjadi satu-satunya perusahaan tambang yang mendapatkan Emas, karena mampu mampu bersinergi dengan pemerintah daerah (pemda) dalam pelaksanaan program-programnya. Perencanaanya bagus, pelaksanaannya transparan, dan tidak ada yang overlapping dengan program daerah, bahkan kerja bareng dengan pemda. “Kalau perusahaan lain justru ada yang ‘kucing-kucingan’ dengan pemda,” ujarnya.

Untuk Indocement di Palimanan, berhasil meraih PROPER Emas karena mampu mengembangkan industri kreatif di daerah operasinya berdasarkan warisan budaya. Comdev Indocement mengembangkan batik tulis dengan merek “Bima”. Kerajinan membatik yang biasanya diminati orangtua, lewat pembinaan Medco kemudian digandrungi pula oleh kaum muda, dan produknya bisa dijual. “Di situ kuncinya, bisa dijual. Jadi programnya memiliki nilai ekonomi,” jelas Sigit.

Sedangkan Unilever di Rungkut, Surabaya, mendapat Emas karena berhasil mengaitkan produknya dengan program Comdev yang dilaksanakan. Di Rungkut, Unilever mensosialisasikan kepada anak-anak warga sekitarnya, tentang pentingnya menggosok gigi dan bersabun dengan benar.

Sederhana memang, tapi inovatif, partisipatif, dan spesifik beda. Bagi yang ingin perusahaannya meraih PROPER Emas, silahkan ikuti jejak mereka.

(Abraham Lagaligo / abrahamlagaligo@gmaul.com)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)