Dunia Energi Logo Jumat, 24 November 2017

Investor Perancis dan Tiga Mitra Lokal Garap Energi Terbarukan Rp 16,9 Triliun

JAKARTA- Engie Group, perusahaan asal Perancis yang bergerak dalam industri energi global, menandatangani tiga perjanjian kemitraan jaringan mikro dan pengembagan energi terbarukan di Indonesia senilai total US$ 1,255 miliar atau setara Rp 16,9 triliun (kurs Rp 13.500 per dolar AS).

Perjanjian kemitraan pertama dilakukan antara Engie dan Sugar Group untuk pengembangan proyek energi terbarukan di Sumatera dan kawasan Indonesia Timur. Total investasi untuk kerja sama selama lima tahun kedepan mencapai US$ 1 miliar.

Kedua, Engie bekerja sama dengan Electric Vine akan berinvestasi hingga US$240 juta selama lima tahun kedepan untuk membangun jaringan mikro fotovoltaik (PV) untuk 3.000 desa di Provinsi Papua.

Ketiga, Engie bersama PT Arya Watala Capital akan berinvestasi sebesar US$ 15 juta guna mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya di Nusa Tengara Timur.

Tiga perjanjian kemitraan tersebut ditandatangani hari ini seiring dengan kunjungan Presiden Hollande ke Asia Tenggara, yang mencakup Singapura, Malaysia dan Indonesia, dari 26 sampai 29 Maret 2017.

Didier Holleaux, Wakil Presiden Eksekutif Engie Group, mengatakan tiga perjanjian kemitraan tersebut menegaskan kembali komitmen perusahaan kepada Indonesia guna mendukung penyediaan akses terhadap energi bagi seluruh pihak. Proyek-proyek tersebut akan menjadi langkah signifikan bagi Indonesia guna mencapai target untuk mengurangi ketergantungan negara pada sumber energi yang berasal dari fosil, dan menyediakan listrik bagi 97% penduduknya pada 2019.

“Strategi kami adalah untuk bekerja melalui kemitraan ekosistem guna mengembangkan dan menelaah energi terbarukan dan memberikan solusi teknologi rendah karbon yang inovatif untuk mengatasi tantangan energi yang khas dari negara ini,”ujar Holleaux dalam siaran pers yang diterima Dunia-Energi, Rabu (29/3).

Dalam perjanjian Engie dan Sugar Group, kedua perusahaan mengembangkan berbagai proyek energi terbarukan yang akan berlangsung selama lima tahun ke depan untuk mengembangkan pembangkit listrik fotovoltaik dan pembangkit listrik biomassa, dengan total kapasitas pembangkit listrik sebesar 500 megawatt di wilayah Sumatera dan Indonesia bagian Timur.

Menurut Holleaux, proyek ini akan memberikan kontribusi yang besar bagi pelaksanaan program nasional untuk mengurangi efek gas rumah kaca dan perubahan iklim, dengan perkiraan penghindaran karbon sebanyak 1,5 juta ton CO2e per tahun. Taman panel surya di Sumatra dan Indonesia Timur akan memiliki total kapasitas pembangkit listrik sebesar 300 megawatt, termasuk didalamnya sebuah taman panel surya berkapasitas 140 megawatt di provinsi Lampung yang menjadikannya salah satu fasilitas tenaga surya terbesar di Asia Tenggara. Sementara itu, pembangkit listrik biomassa dengan total kapasitas pembangkit listrik sebesar 200 megawatt akan memanfaatkan limbah pertanian serta bahan dari pembukaan lahan.

“Dengan demikian proyek ini akan memungkinkan Indonesia untuk mencapai target energi terbarukannya dan mengurangi polusi dari kegiatan pembukaan lahan,” katanya.

Sementara kerja sama Engie dan Electric Vine Industries untuk pengembangan jaringan mikro terkait pengembangan, pembiayaan, pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan jaringan mikro fotovoltaik cerdas yang menyediakan listrik 24 jam penuh bagi 3.000 desa di Provinsi Papua selama 20 tahun. Dengan proyek baru ini, sekitar 2,5 juta orang di seluruh Papua akan dapat menikmati energi yang bersih dan dapat diandalkan tanpa gangguan.

Adapun kerja sama Engei dan PT Arya Watala Capital akan mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya. Menurut Holleaux, proyek ini akan terletak di sepuluh daerah yang berbeda di pulau-pulau besar di provinsi tersebut seperti Timor Barat, Flores dan Sumba.

“Seluruh perjanjian ini juga sejalan dengan semangat dari Terrawatt Initiative, sebuah organisasi nirlaba yang diluncurkan oleh Engei pada COP21, yang bertujuan untuk mempromosikan energi surya yang terjangkau dan menambah kapasitas produksi listrik tenaga surya fotovoltaik hingga lebih dari 1 terawatt antara tahun 2016 dan 2030,” katanya.

Engie Indonesia berkomitmen untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan berkelanjutan kepada salah satu ekonomi yang tumbuh paling cepat di dunia, melalui peningkatan pasokan energi dengan gas alam dan pembangkit lisrik terbarukan (panas bumi, tenaga surya, biogas), serta meningkatkan efisiensi energi dan memberikan solusi terhadap tantangan urbanisasi yang cepat. Perseroan telah memulai pembangunan di Indonesia melalui pembangkit listrik panas bumi dengan suhu tinggi pertama di dunia, Muara Laboh, yang juga merupakan proyek energi terbarukan pertama bagi Engie di Tanah Air. (RA)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)