Dunia Energi Logo Rabu, 22 November 2017

Investasi Hulu Migas di Indonesia Pada 2013 Alami Peningkatan 17%

Sumur gas Benggala Pertamina EP, salah satu kegiatan pemboran 2013 yang berhasil memproduksikan gas.

Sumur gas Benggala Pertamina EP, salah satu kegiatan pemboran 2013 yang berhasil memproduksikan gas.

JAKARTA – Sepanjang 2013 kalangan pelaku industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia banyak mengeluhkan ketidakpastian hukum dan tumpang tindih regulasi yang terjadi. Toh investasi di kegiatan pemboran dan produksi isi perut bumi ini masih mengalami peningkatan sekitar 17%.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Johannes Widjonarko mengungkapkan, sampai akhir 2013 penanaman modal untuk berbagai kegiatan di sektor hulu migas, mencapai sekitar USD 19,342 miliar.

“Jumlah investasi di 2013 ini meningkat sekitar 17 persen dibandingkan investasi tahun lalu yang sebesar USD 16,543. Investasi di sektor hulu migas memang mengalami peningkatan signifikan dalam tiga tahun terakhir,” ujar Widjonarko di Jakarta, Senin, 30 Desember 2013.

Investasi di sektor hulu migas sendiri mencakup berbagai kegiatan untuk studi potensi lapangan migas, survei dan eksploitasi cadangan migas, pemboran untuk memproduksikan minyak dan gas, perawatan sumur-sumur migas, pembangunan fasilitas di lapangan migas, dan beerbagai kegiatan lain yang berhubungan dengan pengangkatan sumber energi itu dari perut bumi.

Widjonarko menerangkan, dalam Rencana Kerja dan Anggaran SKK Migas 2013, ditargetkan pemboran ekspolitasi pada 1.107 sumur pengembangan, 953 sumur workover, dan 29.642 well services (perawatan sumur, red). Dari target tersebut, realisasinya hanya 980 sumur pengembangan yang berhasil dibor, 779 sumur workover, dan 26.749 well services.

Sedangkan untuk pengeboran eksplorasi di 2013, realisasinya hanya 91 sumur dari 121 sumur yang ditargetkan. Kendala yang dihadapi antara lain pembabasan izin lahan, proses pengadaan, jadwal rig, persiapan lokasi, dan evaluasi subsurface (kondisi lapangan, red).

Untuk kegiatan seismik, lanjutnya, pada 2013 industri hulu migas Indonesia menargetkan survei seismik dua dimensi (2D) sepanjang 15.647 kilometer, dan survei seismik tiga dimensi (3D) seluas 22.576 kilometer persegi. “Dari target ini, realisasinya adalah 11.949 km atau 76% untuk seismik 2D, dan 14.177 km persegi atau 63% untuk seismik 3D,” pungkasnya.

KEGIATAN OPTIMALISASI PRODUKSI MIGAS 2013

NO

Optimasi Pencapaian Target Produksi 2013

Gain Production (BOPD)

1

Melakukan pemboran pengembangan, WO dan WS

93.900

2

Mengurangi frekuensi unplanned shutdown dengan optimasi kegiatan maintenance fasilitas

8.600

3

Keberhasilan zone shifting di Lap. Belida COPI Block B

4.000

4

Percepatan produksi Lap. South Mahakam

1.600

5

Optimasi kegiatan dan keberhasilan sumur-sumur pengembangan di PHE ONWJ

1.500

6

Penggantian membrane pipa MCL

1.000

7

Program water shut off di Lap. Sukowati

500

TOTAL

111.100

(Abdul Hamid / duniaenergi@yahoo.co.id)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)