Dunia Energi Logo Rabu, 19 Desember 2018

Ini Strategi Samindo Resources Hadapi Kenaikan Harga BBM dan Lonjakan Nilai Rupiah

JAKARTA– Peningkatan harga minyak dunia yang diikuti oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) serta meroketnya nilai tukar rupiah menjadi tantangan bagi industri jasa pertambangan. Apalagi BBM merupakan komponen utama dalam biaya material pada perusahaan jasa pertambangan.

Hingga pertengahan 2018, harga BBM industri mencapai Rp11.300 per liter. Padahal di awal tahun, harga BBM industri masih di bawah Rp11.000 per liter. Sedangkan kurs rupiah sudah mencapai di atas level Rp 14.200 per dolar AS dari sebelumnya berada di level Rp 13.300-13.500.

“Secara rata-rata, kontribusi biaya material terhadap total produsi perusahaan jasa pertambangan mencapai 40%,” ujar Ahmad Saleh, Direktur Independen PT Samindo Resources Tbk saat bertemu media di Jakarta, Rabu (18/7).

Menurut Saleh, dampak dari terus meroketnya harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah tidak hanya terhadap harga BBM. Sebagian dari suku cadang yang digunakan untuk alat-alat berat harus didatangkan dari luar negeri. “Karena itu, melonjaknya nilai tukar rupiah otomatis mendorong kenaikan harga suku cadang,” katanya.

Mencermati situasi tersebut, manajemen PT Samindo Resources Tbk (MYOH), perusahaan penyedia jasa pertambangan batubara terintegrasi yang mayoritas sahamnya dikuasai Samtan Co Ltd, terus memantau apakah kondisi relatif stabil ataukah hanya sesaat. Dengan kecenderungan yang terus meningkat, menurut Kim, manajemen Samindo telah mengambil empat langkah strategis untuk melakukan efisiensi biaya.

Pertama, manajemen Samindo membeli BBM dalam jumlah besar dengan mempertimbangkan prediksi harga BBM dalam beberapa bulan ke depan. Pembelian BBM dalam jumlah besar juga mendapatkan potongan harga sehingga dapat menghemat biaya pembelian BBM. Setiap tahun Samindo membeli BBM jenis solar sekitar 48 juta liter. “Dari BBM ada efisiensi sekitar 5%, lumayan,” katanya.

Baca juga  Pemerintah Siapkan Regulasi Baru Penetapan Harga Gas dan Hak Distribusi Badan Usaha

Kedua, Samindo secara konsisten memelihara jalan, salah satunya adalah mengatur tingkat kemiringan. Derajat kemiringan jalan cukup signifikan dalam memengaruhi konsumsi BBM. “Tingginya kemiringan jalan otomatis meningkatkan tenaga yang digunakan, yang otomatis meningkatkan konsumsi BBM,” katanya.

Ketiga, pemeliharaan jalan juga berdampak terhadap pemakaian ban. Pemeliharaan jalan secara berkelanjutan berhasil memperpanjang durasi pemakaian ban. “Saat ini pergantian ban terjadi setiap enam bulan, sebelumnya pergantian ban dilakukan setiap empat bulan,” katanya.

Keempat, manajemen juga menginstruksikan kepada para pengemudi alat berat untuk mematikan mesin pada saat pertukaran shift. Kegiatan operasional tambang berlangsung selama 24 jam dilakukan dalam tiga shift.

Melalui anak usahanya, PT SIMS Jaya Kaltim, Samindo Resources mengoperasikan 133 dump truck dan sekitar 18 ekskavator. Itu belum termasuk sejumlah buldoser. Total satu dump truck dapat mengangkut batubara sebanyak 120 ton.

Tahun ini, Samindo memproyeksikan pemindahan lahan atau overburden removal sebesar 54 juta bank cubic meter bcm, terdiri atas 49 juta bcm untuk PT Kideco Jaya Agung dan 5 juta bcm untuk PT Gunung Bayan Pratama (anak usaha PT Bayan Resources Tbk), naik dari tahun lalu sebesar 48 juta bcm Kideco dan 2,5 juta bcm Gunung Bayan Pratama. Sementara produksi batubara sepanjang 2018 diproyeksikan mencapai 10,9 juta ton.

Samindo adalah investment holding company dengan kompetensi inti dalam penyediaan jasa pertambangan batubara dalam hal pemindahan lahan (overburden removal) dan produksi batubara (coal getting), pengangkutan batubara (coal hauling), serta pemetaan geologi dan pemboran (geological mapping and drilling). Samindo menjalankan keempat kegiatan produksi melalui empat anak usaha, yaitu PT SIMS Jaya Kaltim, PT Trasindo Murni Perkasa, PT Samindo Utama Kaltim, dan PT Mintec Abadi.

Baca juga  Besok, Pemerintah Umumkan Pemenang Lelang WK Migas 2017

Sebanyak 59,03% saham Samindo dikuasai Samtan Co Ltd dan 14,18% oleh Datuk Low Tuck Kwong, pemilik Bayan Resources. Sedangkan 26,79% dikuasai publik di berbagai perusahaan aset-aset manajemen ternama. (DR)

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.