JAKARTA – Pemerintah optimistis realisasi elektrifikasi bisa jauh melampaui target 2017 seiring realisasi hingga November yang sudah mencapai 93%.

Ignasius Jonan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan rasio elektrifikasi diproyeksikan akan terus bertambah dan puncaknya pada 2019 juga bisa melampaui target 97%.

“Kalau PLN speed dan komitmennya bagus sampai akhir tahun bisa sampai 94% dari target 92,75%. Pada 2019 bisa sampai 97%, tapi saya sama pak Sofyan (Dirut PLN) sudah janjian kalau bisa sampai 99%,” kata Jonan disela paparannya dalam gelaran CEO Forum di Jakarta, Rabu (29/11).

Jonan mengklaim salah satu faktor pendorong pertumbuhan rasio elektrifikasi adalah dijalankannya beberapa program listrik di desa-desa terpencil yang sebelumnya terisolir dengan mengupayakan memasok aliran listrik menggunakan pembangkit sederhana, berupa home solar system yang rencananya juga akan dilanjutkan pada 2018.

Salah satu kendala dalam meningkatkan rasio elektrifikasi terletak pada lokasi masyarakat yang berada di wilayah yang sulit diakses.

Jonan mencontohkan kondisi sekarang ada 10 ribu desa dengan supply listrik yang tidak maksimal, misalnya satu desa lima dusun, yang ada listriknya hanya tiga dusun. Untuk itu, pemerintah berkomitmen menuntaskan pemenuhan listrik hingga 2019.

“Pakai Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) kami coba dalam 2018. Kami pasang home solar system sambil menunggu jaringan listrik masuk pada tahun berikutnya. paling tidak elektrifikasinya sampai,” kata Jonan.

Dalam data pemerintah saat ini konsumsi listrik adalah 978 KWh per kapita, seiring peningkatan rasio elektrifimasi serta penambahan pembangkit listrik maka pada 2019 nanti konsumsi listrik per kapita diproyeksikan sebesar 1.250 KWh.

Menurut Jonan, ujung tombak untuk melistriki daerah-daerah terpencil adalah dengan membangun pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir pemeritnah mengklaim total kapasitas pembangkit terpasang dari EBT adalah sebesar 3.769 megawatt (MW) yang dipenuhi dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sebesar 1.698 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi (PLTB) 1.812 MW serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hydro (PLTMH) sebesar 259 MW.

Namun demikian Jonan mengingatkan bahwa penambahan kapasitas pembangkit harusĀ  dibarengi dengan pertumbuhan konsumsi. Dengan adanya peningkatan konsumsi maka harga listrik juga akan dibuat semakin terjangkau.

“Ini PLN janjian sama saya, tak hanya tarif listrik yang tidak naik, tapi juga bisa terjangkau. Kalau listrik banyak, tapi orang tidak bisa beli listrik ya sia-sia juga,” kata Jonan.(RI)