Dunia Energi Logo Minggu, 19 November 2017

Harga Minyak Melonjak, WTI di Atas US$40

NEW YORK – Selama dua hari berturut, harga minyak dunia menguat, Kamis (Jumat pagi WIB). Ini mendorong minyak mentah AS di atas US$40  per barel untuk pertama kalinya pada tahun ini.

Harga minyak terangkat oleh penurunan tajam nilai tukar dolar AS dan munculnya kembali optimisme bahwa produsen-produsen utama akan mencapai kesepakatan pada bulan depan untuk membekukan tingkat produksi mereka.

Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April  naik US$1,74 (atau 4,5%) di posisi US$40,20  per barel di New York Mercantile Exchange. Untuk pertama kalinya WTI ditutup di atas posisi US$40 sejak 3 Desember tahun lalu.

Sementara di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Mei, patokan Eropa, bergeser tipis ke posisi US$41,54 per barel, atau naik US$1,21 (3%)  dari penutupan Rabu.

Menurut Bob Yawger dari Mizuho Securities USA, alasan besar untuk reli adalah sinyal kebijakan The Fed  pada Rabu, yang termasuk mempertimbangkan kembali laju untuk kenaikan suku bunga AS selanjutnya. Langkah tersebut membuat nilai tukar dolar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya untuk hari kedua berturut-turut, mengangkat harga minyak mentah yang dihargakan dalam mata uang AS.

“Anda memiliki dollar yang lemah hari ini dan berkorelasi terbalik dengan minyak mentah, minyak mentah akan reli,” kata Yawger. “Indeks dollar, misalnya, berada pada terendah lima bulan sementara pada saat yang sama Anda melihat tertinggi tiga bulan dalam minyak mentah. Itulah mengapa Anda melihat begitu banyak penguatan.”

Pelemahan dollar membuat minyak mentah yang dihargakan dalam dolar lebih murah dan lebih menarik bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya.

Penurunan produksi AS juga mendukung pasar. Produksi minyak mentah negara itu kehilangan 10.000 barel menjadi 9,068 juta barel per hari pada pekan lalu, menurut laporan mingguan dari Badan Informasi Energi AS (EIA) yang dirilis Rabu.

Di sisi lain stok minyak mentah AS meningkat kurang dari yang diharapkan. Persediaan minyak mentah pekan lalu naik 1,3 juta barel menjadi 523,2 juta barel, 64,7 juta barel lebih besar dari satu tahun sebelumnya, menurut EIA.

Prospek pembicaraan pembekuan produksi pada 17 April antara produsen OPEC dan non-OPEC terus mendukung pasar. “Tapi bank-bank sentral juga memainkan peran,” kata Matt Smith dari ClipperData.

Produsen-produsen telah memainkan peran mereka dalam memicu kenaikan cepat minyak mentah, bank-bank sentral juga banyak berkontribusi terhadap reli baru-baru ini. “Suku bunga negatif, langkah-langkah stimulus dan kebijakan moneter akomodatif yang sedang berlangsung telah meningkatkan sentimen pasar,” tutur Smith, seperti dilaporkan Xinhua.(LH)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)