Dunia Energi Logo Jumat, 24 November 2017

Harga Minyak Capai Level Tertinggi Sepanjang 2016

JAKARTA – Penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat yang signifikan telah mendorong harga minyak dunia menguat hingga level tertinggi sepanjang tahun ini pada Rabu (Kamis pagi WIB).

Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni melonjak US$1,57 menjadi US$46,23 per barel, penutupan tertinggi sejak November 2015. Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan Juli, patokan Eropa, ditutup pada level US$47,60 per barel, naik US$2,08 dari tingkat penutupan Selasa.

Departemen Energi AS mengatakan stok minyak mentah merosot 3,4 juta barel menjadi 540 juta barel pada pekan lalu. Padahal stok minyak negara itu diperkirakan naik 750.000 barel. Sementara itu, persediaan bensin dan sulingan seperti diesel dan bahan bakar pemanas turun lebih besar dari yang diperkirakan.

Matt Smith dari ClipperData menunjukkan harga minyak sudah naik karena gangguan pasokan akibat kebakaran hutan di wilayah kaya minyak Alberta, Kanada, dan masalah dengan pemberontak serta kebocoran di pipa Shell di Nigeria, produsen minyak terbesar Afrika.

“Penurunan persediaan hanya menambahkan dorongan lebih tinggi. Jadi kita sudah reli lebih tinggi karena itu. Itu sangat mengejutkan,” kata Smith.

Departemen Energi juga mengatakan produksi minyak AS turun 23.000 barel per hari menjadi 8,80 juta barel per hari pekan lalu, turun dari 9,6 juta barel Juni lalu. Produsen-produsen AS, terutama di wilayah minyak serpih, telah mengurangi produkis mereka akibat harga rendah. Perhatian pasar juga berfokus pada penutupan jaringan pipa penting Shell di Nigeria menyusul terjadinya kebocoran.

“Harga bahan bakar menarik beberapa dukungan dari penutupan jaringan pipa terbaru di Nigeria, yang telah menggarisbawahi penurunan produksi baru-baru ini karena meningkatnya serangan militan di Delta Niger,” kata Tim Evans dari Citi Futures.

Evans mencatat bahwa total produksi OPEC meningkat pada April meskipun terjadi penurunan dalam produksi Nigeria. “Dan sementara pasar mungkin dalammood fokus pada penurunan produksi, secara keseluruhan pasokan mungkin menjadi cerita lain,” kata dia, demikian dikutip dari AFP dan Xinhua.(AT/ANT)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)