Dunia Energi Logo Senin, 19 November 2018

Harga Minyak Bervariasi Dipicu Kekhawatiran Dampak Potensial dari Sanksi AS terhadap Iran

NEW YORK– Harga minyak mentah di pasar global bervariasi pada penutupan perdagangan Jumat atau Sabtu (15/9) karena dampak potensial dari sanksi-sanksi Amerika Serikat terhadap Iran diimbangi oleh kekhawatiran pengenaan tarif tambahan Amerika terhadap China.

Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik 40 sen AS menjadi menetap di 68,99 dolar per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman November turun 9,00 sen AS menjadi 78,09 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Pada perdagangan sehari sebelumnya, Brent untuk pengiriman November kehilangan 1,56 dolar AS atau dua persen menjadi 78,18 dolar per barel di London ICE Futures Exchange. Patokan global pada Rabu (13/9) mencapai 80,13 dolar AS, level tertinggi sejak 22 Mei. Sedangkan WTI untuk pengiriman Oktober turun 1,78 dolar AS atau 2,5 persen menjadi ditutup padai 68,59 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Para pedagang mengatakan reli harga pada Jumat (14/9) dipicu oleh laporan Menteri Luar Negeri Michael Pompeo akan memberikan konferensi pers tentang sanksi-sanksi baru terhadap Iran.

“Ini meningkatkan kemungkinan bahwa akan ada lebih sedikit minyak yang keluar dari sana (Iran),” kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group, seperti dikutip Reuters.

Amerika AS Serikat memperbarui sanksi-sanksi terhadap Iran setelah menarik diri dari kesepakatan nuklir yang dicapai pada 2015 antara Teheran dan kekuatan-kekuatan dunia.
Washington memberlakukan kembali beberapa sanksi keuangan mulai 6 Agustus, sementara sanksi-sanksi yang mempengaruhi sektor perminyakan Iran akan mulai diberlakukan mulai 4 November.

Para analis percaya bahwa kekhawatiran terus-menerus tentang dampak sanksi-sanksi AS terhadap ekspor minyak mentah Iran tetap akan mendukung harga minyak.
Namun, dukungan positif dari sanksi-sanksi Iran itu, dihentikan oleh laporan bahwa Presiden AS Donald Trump menginstruksikan para pembantunya untuk melanjutkan pengenaan tarif tambahan pada sekitar 200 miliar dolar AS produk-produk China.

Baca juga  Insentif untuk Pengembang EBT Tinggal Tunggu Keputusan Wapres

Perang dagang Amerika Serikat dengan mitra-mitranya, memicu kekhawatiran berkurangnya permintaan minyak global.

Sementara itu, jumlah rig yang beroperasi di ladang-ladang minyak AS naik tujuh rig menjadi total 867 rig pekan ini, perusahaan jasa ladang minyak Baker Hughes mengatakan dalam laporan mingguannya pada Jumat (14/9).

Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa meskipun pasar minyak sedang mengetat pada saat ini dan permintaan minyak dunia akan mencapai 100 juta barel per hari (BPH) dalam tiga bulan ke depan, risiko-risiko ekonomi global sedang meningkat.

“Ketika kita memasuki tahun 2019, risiko yang mungkin untuk perkiraan kami terletak di beberapa negara berkembang utama, sebagian karena depresiasi mata uang terhadap dolar AS, meningkatkan biaya energi yang diimpor,” kata lembaga itu, dikutip dari Reuters yang dilansir Antaranews.com.

Perusahaan-perusahaan AS di China dirugikan dengan meningkatnya ketegangan perdagangan antara Washington dan Beijing, menurut survei, yang mendorong lobi-lobi bisnis AS mendesak pemerintah Trump untuk mempertimbangkan kembali pendekatannya.

Gedung Putih telah mengundang para pejabat China untuk memulai kembali pembicaraan perdagangan, ketika AS bersiap meningkatkan perang perdagangan dengan China dengan tarif pada barang-barang China senilai 200 miliar dolar AS.

Menteri Energi AS Rick Perry memuji anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia untuk pekerjaan mereka dalam mencegah lonjakan harga minyak selama kunjungannya ke Moskow.

Produksi minyak mentah AS turun 100.000 barel per hari menjadi 10,9 juta barel per hari pekan lalu karena industri menghadapi kendala kapasitas jaringan pipa.

Meskipun produksi mingguan menurun, AS kemungkinan melampaui Rusia dan Arab Saudi awal tahun ini untuk menjadi produsen minyak mentah terbesar dunia, berdasarkan perkiraan awal dari Badan Informasi Energi AS (EIA).

Baca juga  DPR Soal Vonis Bioremediasi: Akibat Hakim Tak Paham Industri Minyak dan Gas Bumi

Meskipun EIA tidak mempublikasikan perkiraan produksi minyak mentah untuk Rusia dan Arab Saudi dalam prospek jangka pendeknya, mereka memperkirakan bahwa produksi AS akan terus melebihi produksi Rusia dan Saudi untuk sisa bulan 2018 dan hingga 2019. (RA)

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.