Dunia Energi Logo Minggu, 18 November 2018

Emas Kehilangan Pesona Setelah The Fed Naikkan Suku Bunga

JAKARTA-Emas kembali kehilangan pesonanya setelah harganya kian turun. Pada perdagangan Kamis (21/8) pagi, harga emas untuk pengiriman Agustus 2018 di Commodity Exchange kembali mencapai titik terendah tahun ini di posisi US$ 1.271,20 per troy ounces. Ini adalah penurunan 0,26% dibandingkan perdagangan Rabu (20/8). Dalam tiga hari perdagangan, akumulasi penurunan mencapai 0,69% kendati sempat naik ke atas level US$ 1.300 per troyounces, belakangan melorot lagi ke level di bawah US$ 1.300 pada akhir pekan hingga kini.

Harga emas semakin kehilangan pesona setelah Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunga acuan. Seperti diketahui, suku bunga acuan Bank Sentral AS naik sebesar 25 basis poin menjadi 1,75% hingga 2,00% pada Rabu (14/6). Kenaikan suku bunga ini merupakan yang kedua di 2018 dan ketujuh sejak akhir 2015. Kenaikan suku bunga The Fed pun diprediksi mencapai empat kali pada tahun ini.

Dalam pernyataannya, Bank Sentral menjelaskan, kebijakan penaikan suku bunga acuan dengan alasan realisasi dan ekspektasi kondisi-kondisi pasar kerja dan inflasi.

Menurut The Fed pasar tenaga kerja AS telah “terus menguat” dan kegiatan ekonomi telah “naik pada tingkat yang mantap”, dengan belanja rumah tangga meningkat dan investasi bisnis tetap tumbuh kuat.

The Fed juga menyatakan, baik inflasi secara keseluruhan maupun apa yang disebut inflasi inti untuk barang-barang selain makanan dan energi telah bergerak mendekati 2%. Hal ini menunjukkan bahwa para pejabat Fed semakin yakin tentang inflasi akan mencapai targetnya sebesar 2%.

Di sisi lain, perang dagang tidak menyebabkan harga emas menguat. Investor lebih memilih safe haven berupa dolar AS dan US Treasury untuk mengalihkan dana dari aset berisiko. Hal ini menyebabkan mata uang dolar AS menguat sedangkan harga emas trun.

Baca juga  Ini Alasan Inalum Bangun Smelter di Kalimantan Utara

“Suku bunga tinggi dan dolar yang menguat menyebabkan harga emas tertahan, setidaknya untuk jangka pendek,” ujar Will Rhind, CEO GraniteShares kepada Reuters.

Simona Gambarini, Analis Capital Economics, mengatakan suku bunga tinggi menyebabkan emas yang tidak memiliki imbal hasil menjadi kurang menarik. “Penurunan harga emas tipis saja karena permintaan safe haven ini masih ada,” katanya.

Harga Emas Masih Suram

Sebelumnya, Nicolas Mathier, Managing Partner Global Precious Metals,memperkirakan, emas akan diperdagangkan lebih tinggi pada tahun ini. Pasalnya, investor melakukan lindung nilai (hedging) terhadap risiko di pasar saham dan ketidakpastian geopolitik yang dilakukan Presiden AS Donald Trump.

“Emas terutama dibeli sebagai lindung nilai terhadap risiko sistematis atau risiko counter-party,” kata Mathier, seperti dilansir Bloomberg.

Menurut dia, tahun lalu, pasar ekuitas sedang booming. Sedangkan tahun ini, pasar ekuitas akan sama, booming, namun dengan banyak volatilitas, yang tidak terjadi pada 2017.

“Minat investor pada emas sekarang lebih besar daripada tahun lalu, dan harga mungkin menyentuh level tertinggi US$ 1.425 per troy ounce pada tahun ini,” ujar Mathier.

Tahun lalu, harga rata-rata emas spot di kisaran US$ 1.259 per troy ounces. Sedangkan, tahun ini, rata-rata harga emas diperkirakan berada di level US$ 1.385 per troy ounces. (DR)

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.