Dunia Energi Logo Sabtu, 20 Oktober 2018

Dua Minggu Pasca Bencana,  Listrik Palu-Donggala Pulih 81,6%

JAKARTA – Upaya pemulihan ketenagalistrikan di wilayah terdampak gempa dan tsunami di Palu dan Donggala terus dikebut. Hingga dua minggu pasca bencana, listrik yang pulih sudah 102 megawatt (MW) atau 81,6% dari kapasitas normal sebelum bencana sebesar 125 MW. Disisi lain, penggunaan listrik juga baru sekitar 50% dari kapasitas listrik.

“Sekarang itu baru 60 MW, jadi masih ada margin tapi PLN akan memulihkan beban seperti sebelum terjadi tsunami,” kata Arcandra Tahar, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta, Jumat (12/10).

Pekerja PLN tengah berubah memulihkan kondisi kelistrikan di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Pemulihan kondisi ketenagalistrikan di wilayah Palu dan sekitarnya tidak lepas dari rampungnya beberapa perbaikan fasilitas utama, seperti gardu induk dan penyulang listrik. Tujuh Gardu Induk dan 45 penyulang telah berhasil dipulihkan oleh tim gabungan PT PLN . (Persero).

Selain infrastruktur utama, infrastruktur pendukung tenaga listrik seperti pemulihan 1.798 gardu pendukung serta penambahan pasokan melalui 66 genset, dengan 54 diantaranya sudah didistribusikan ke Palu, Donggala dan Sigi. Serta menerjunkan sekitar 1.082 relawan untuk membantu pemulihan kondisi listrik.

Pasokan BBM

Selain kelistrikan pasokan BBM pasca gempa dan tsunami juga sudah memasuki fase pemulihan ke kondisi normal.

Arcandra mengatakan untuk SPBU di tiga lokasi, yakni Palu, Donggala dan Sigi hanya tinggal sembilan SPBU yang belum optimal memasok BBM ke masyarakat akibat mengalami kerusakan sangat parah.

“Untuk tiga lokasi itu 30 dari 39 SPBU sudah pulih,” tukasnya.

Untuk pasokan BBM yang masuk ke wilayah terdampak bencana juga berangsur normal dan sudah bisa dilakukannya bongkar muat BBM di TBBM Donggala yang sebelumnya sempat terhenti.

Baca juga  Kementerian ESDM Klaim Tidak Ada Penurunan Investasi Energi

Hingga jetty bisa beroperasi normal, rencananya akan menggunakan strategi memasok BBM dengan Single Point Mooring (SPM), yaitu pemuatan pelampung di lepas pantai, yang berfungsi sebagai titik tambat dan interkoneksi untuk tanker loading atau offloading gas atau produk cair. SPM adalah hubungan antara koneksi manifold bawah laut geostatik dan tanker weathervaning.

Kemudian untuk ketahanan bahan bakar di wilayah terdampak bencana juga sudah berangsur normal. Untuk stok avtur ketahanan 22 hari, solar 30 hari serta gasoline ketahanan 16 hari. Penyediaan LPG sudah 100% normal yang dipasok dari 17 agen lapangan dan tiga SPBU.(RI)

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.