Dunia Energi Logo Jumat, 24 November 2017

Dilema PLTA, Murah dan Ramah, Namun Saat Kemarau Banyak Kendala

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

JAKARTA – Keandalan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) diuji dalam kasus krisis listrik di Sumatera. PLTA merupakan salah satu energi baru terbarukan yang potensinya cukup besar di Indonesia, karena banyaknya sungai dan danau dengan debet air deras. Namun menurut keterangan PT PLN (Persero) saat kemarau, sumber energi yang ramah lingkungan ini kurang bisa diharapkan pasokan listriknya.

Seperti diungkapkan Senior Manajer Komunikasi Korporat PLN, Bambang Dwiyanto, salah satu penyebab krisis listrik di Sumatera adalah sejumlah PLTA yang biasa memasok listrik ke sistem Sumatera, tidak bisa beroperasi maksimal akibat kemarau.

“Saat ini masuk musim kemarau, beberapa PLTA tidak bisa beroperasi maksimal karena debit air yang tidak cukup. Ini adalah tipikal dasar dari sebuah PLTA, biaya operasi PLTA murah namun operasinya sangat tergantung musim,” ujar Bambang Dwiyanto di Jakarta, September 2013.

Ia mencontohkan Sistem Kelistrikan Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng) yang meliputi Sumatera Barat (Sumbar) dan Riau. Sistem Sumbagteng ini sangat mengandalkan PLTA. Di sistem ini setidaknya ada 4 PLTA yaitu PLTA Singkarak, PLTA Kotopanjang, PLTA Batang Agam, dan PLTA Danau Maninjau.

Akibat kemarau, kata Bambang, empat PLTA tersebut tidak bisa beroperasi maksimal. Ditambah lagi,  PLTU (pembangkit listrik tenaga upa/batubara) Ombilin sedang mengalami kerusakan dan diprediksi awal Oktober 2013 baru selesai perbaikannya.

PLN, ujar Bambang, sebenarnya sudah mempersiapkan tambahan pasokan di sistem ini, dengan membangun PLTU Teluk Sirih. Namun proyek ini juga terlambat penyelesaiannya.

Begitu juga sistem Sumbagut, dimana ada kerusakan di PLTU labuhan Angin dan PLTG (pembangkit listrik tenaga gas) Belawan. Tambahan pasokan yang disiapkan PLN dengan membangun PLTU Pangkalan Susu juga terlambat selesainya.

Menurut Bambang, pemeliharaan pembangkit, jaringan, gardu induk, dan gardu distribusi, sudah dilakukan PLN secara rutin sesuai jadwal dan standar penggunaan alat-alat tersebut. Namun entah mengapa, hingga awal Oktober 2013 ini krisis listrik di Sumatera tak kunjung teratasi, sampai-sampai Gubernur Sumatera Utara melapor ke Presiden atas krisis listrik yang menimpa wilayahnya.

(Iksan Tejo / duniaenergi@yahoo.co.id)

Berita terkait:

PLN Ingkar Janji, Gubernur Sumatera Utara Lapor Presiden : http://www.dunia-energi.com/pln-ingkar-janji-gubernur-sumatera-utara-lapor-presiden/

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)